Headlines News :
    PROSES UPDATE
    PROSES UPDATE
    Tampilkan postingan dengan label Jendela Belawa. Tampilkan semua postingan
    Tampilkan postingan dengan label Jendela Belawa. Tampilkan semua postingan

    Dokumen Penting "hilang",Aparat Pemerintahan di Belawa saling Lempar Tanggung Jawab


    Buku Rincik " HILANG" ada Apa ?


    Camat Belawa,H.Ahmad Jahran,S.IP
    Belawa-Kibar.Akibat ulah aparat di Kelurahan Belawa yang tidak menjaga dan merawat dokumen-dokumen penting yang menjadi tugas dan tanggung jawabnya,warga masyarakat di Kelurahan Belawa tidak dapat memperoleh hak-haknya untuk mendapatkan pelayanan secara baik,Sebut misalnya Abdul Muis, 38 tahun warga Jampue kelurahan Belawa, lelaki yang sehari-harinya bekerja sebagai tukang senso ( chain saw) ini dibuat meradang.pasalnya saat hendak meminta foto copy buku rincik di kantor Kelurahan Belawa.Kala itu staf kelurahan Belawa bernama Sulaeman menyampaikan bahwa Buku rincik yang dicari telah disetor kembali pada kantor Pelayanan Pajak pratama Watampone di Bone akan tetapi setelah dicek di kantor pelayanan pajak watampone ternyata buku rincik dari kelurahan Belawa tidak pernah disetor.Menurut Noercholik Ramli,pegawai kantor Pajak Watampone bahwa memang pada tahun 2007 buku rincik setiap lingkungan pernah dipinjam saat akan dilakukan pengukuran dan pembuatan peta blok akan tetapi semua telah dikembalikan.
    Abdul Kadir, S.Sos, Lurah Belawa saat dihubungi menjelaskan bahwa saya sangat sedih kalau ada warga saya yang tidak terlayani dengan baik,makanya setiap ada warga yang membutuhkan pelayanan akan saya layani kapanpun dan dimanapun.soal buku rincik yang pernah dicari sejak saya menjadi Lurah di Kelurahan Belawa buku rincik itu memang tidak pernah saya lihat dan waktu serah terima jabatan tempo hari dokumen itu tidak pernah diserahkan ungkapnya.
    Akan halnya camat Belawa, Ahmad Jahran,S.IP ketika dikonfirmasi via telepon selulernya " bahwa memang semua buku rincik setiap kelurahan dan desa telah disetor ketika terbit peta blok ungkapnya,akan tetapi saat kibar melakukan investigasi kenyataannya  masih banyak desa dan kelurahan di Belawa yang masih menyimpan dan menggunakan buku rincik tersebut,Hal berbeda diungkapkan La Hajji kepala Lingkungan Salompare mengungkapkan bahwa aparat lingkungan,dusun,ataupun desa dan kelurahan tidak boleh menghilangkan karena tidak tertutup kemungkinan ada warga yang membutuhkan copyan buku rincik misalnya saat berperkara tanah maka dasar rujukannya pasti buku rincik itu paparnya.kuat dugaan buku rincik di Kelurahan Belawa  itu disembunyikan atau di " hilangkan " untuk kepentingan tertentu atau memang seperti itulah model pelayanan di Belawa



     ( Akbar/Kibar)

    Berwisata Religi di Mesjid Darussalam Belawa

    Mesjid Darussalam Kecamatan Belawa
    Kibarbelawa.com-Jika anda menyukai wisata religi,mengunjungi Masjid Besar Darussalam dapat menjadi tujuan alternatif wisata anda. Masjid terbesar di Kecamatan Belawa Kabupaten Wajo ini terletak sekitar 50 kilometer arah barat dari Kota Sengkang. Masjid ini memiliki kekhasan sehingga setiap tahunnya ramai didatangi pengunjung dari luar kabupaten dan kota terutama pada Bulan Suci Ramadhan dan puncaknya pada malam 17 Ramadhan (Malam Nuzul Quraan),hari raya idul fitri dan idul adha.Salah satu kekhasannya adalah konon jika jamaah shalat dan berdoa di dekat mimbar masjid maka Insya Allah doa tersebut terkabul.
    Menurut infomasi dari masyarakat, dahulu  sewaktu dibangun mesjid ini tidak memiliki rancang bangun seperti layaknya bangunan-bangunan besar lainnya.sehingga material-material seperti balok kayu yang akan dipasang ada yang tidak sesuai dengan ukuran. Nah jika hal semacam  itu terjadi misalnya kayunya kependekan bukannya disambung akan tetapi oleh tukang kayu yang mengerjakan, balok-balok kayu tersebut hanya dibungkus kain putih dan esok harinya semua balok kayu dapat terpasang dengan sempurna.Bahkan campuran bahan bangunan masjid ini tidak  menggunakan semen sebagai zat perekat melainkan menggunakan batu bata yang ditumbuk halus dan dicampur air.
    Keunikan lainnya adalah pada areal samping kanan mesjid tersebut terdapat sumur tua yang dahulu ditempati para jamaah untuk mengambil air wudhu. Sumur tersebut menurut informasi  dari mulut ke mulut yang berkembang ternyata merupakan sumur sakti yang dipercaya airnya memiliki kekuatan gaib sehingga tidak mengherankan jika setiap bulan Ramadhan dan saat hari raya Idul fitri banyak pengunjung mengambil airnya untuk dijadikan obat  dan konon telah terbukti dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit.bahkan ada sebagian masyarakat yang percaya bahwa bagi perempuan yang susah jodohnya maka barang siapa perempuan yang mandi aer sumur itu akan enteng jodoh. Namun karena kehwawatiran para ulama di Belawa akan terjadinya kemusyrikan serta penyimpangan aqidah sehingga sumur itu terpaksa di tutup.Wallahu A'lam Bissawab
    (Akbar)

    Jamaah Mesjid Al-Ittifaq Abbanuang Desa Lautang Peringati Isra’ Mi’raj

    Camat Belawa,H.Ahmad Jahran,S.IP saat memberikan sambutan

    Kibarbelawa.com-Jamaah dan Remaja Masjid Al-ittifaq Abbanuang desa lautang kec.Belawa selasa malam (18/06/13) melaksanakan peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Besar Muhammad SAW di Halaman Masjid Al-Ittifaq.Panitia Peringatan Isra Mi'raj  mengambil tema: Dengan peringatan  Isra Mi'raj kita Tingkatkan ilmu Pengetahuan dan Teknologi.

    Ketua panitia, Alimuddin dalam sambutannya mengatakan bahwa  acara peringatan isra’ mi’raj bisa dilaksanakan dengan baik dan sukses, karena dukungan dan peran serta semua pihak dan kegiatan ini terselenggara berkat partisipasi dan  sumbagan masyarakat di sekitar masjid.
    Nampak Hadir pada peringatan yang cukup meriah tersebut Camat Belawa H.Ahmad Jahran,S.IP,tokoh masyarakat dan Tokoh-tokoh pemuda se desa Lautang.
    Pembawa Hikmah Isra’ Mi’raj adalah Ustads Kamaruddin Sa’na S.Ag dalam tausiahnya mengajak para jamaah untuk selalu menjaga dan memelihara shalat lima waktu karena kedudukan shalat sangat agung dalam islam. diantara keutamaan shalat antaranya :
    Shalat merupakan pembeda antara muslim dan kafir Rasulullah shallallahu alaihi wa salam bersabda, “Sesungguhnya batasan antara seseorang dengan kekafiran dan kesyirikan adalah shalat. Barangsiapa meninggalkan shalat, maka ia kafir. Salah seorang tabi’in bernama Abdullah bin Syaqiq rahimahullah berkata, “Dulu para shahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah pernah menganggap suatu amal yang apabila ditinggalkan menyebabkan kafir kecuali shalat. Shalat adalah tiang agama dan agama seseorang tidak tegak kecuali dengan menegakkan shalat.( Junaedi/Rum)

    K3S MIS As'adiyah Belawa Gelar PORSEKA

    dari kiri ke kanan H.ABD RAHMAN, S.Pd.I (kepala MIS 29 Wele). Hj. ASIFAH, MM (Kepala UPTD Pend. Kec. Belawa), MUHAMMAD RASYIDIN, S.Pd.I, MA (Guru MIS 29 Wele dan Ketua KKG MIS Se-Kecamatan Belawa) Drs. H. MUHAMMAD YUNUS, M.Pd.(KASUBAG.TU KEMENAG KAB. WAJO)


    Kibarbelawa.com, Sebagai realisasi salah satu program kerja tahunan Kelompok kerja Kepala Madrasah Ibtidaiyah As'adiyah (K3M) MIS As'adiyah se Kecamatan Belawa yakni pelaksanaan kegiatan pekan olahraga,seni dan pramuka (Porseka).Kegiatan porseka tahun ini diikuti 22 regu dari 12 sekolah MIA dan  berlangsung selama 3 hari dari tanggal 11 - 13 Juni di buka oleh kepala kantor kementerian agama kabupaten Wajo diwakili ka subag Tata usaha Kemenag Drs.H.Muhammad Yunus,M.Pd. dipusatkan di Lapangan Sepak bola Andi Mappa Desa Ongko .
    Wakil Ketua Pelaksana,St.Ruhman,S.Pdi yang juga kepala MIA 1 Puteri Belawa saat ditemui Kibar Belawa Tosagenae di lokasi kegiatan Menjelaskan bahwa tujuan diselenggarakannya porseka ini dimaksudkan untuk menumbuhkan kegairahan partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan pendidikan agama utamanya di kecamatan Belawa serta menanamkan nilai-nilai edukatif termasuk didalamya nilai sportifitas,kecakapan hidup dan nilai kebersamaan.
    Muhammad Rasyidin,S.Pdi,MA, Wakil Sekretaris panitia pelaksana juga menginformasikan kepada media ini bahwa jenis kegiatan yang dilombakan intuk pramuka diantaranya baris-berbaris,semafhore,tali-temali,sandi,dasa darma,bacaan shalat dan P3K, untuk cabang olahraga diantaranya sepak takraw,Volly,lari 80 meter,lari karung,lompat jauh,tennis meja dan catur.( Bisri/Harun)






    Tukang Las yang jadi anggota DPRD


    “Ajaran ilmu padi, dimana semakin berisi semakin menunduk" dan prinsip yang namanya emas itu sekalipun terbuang ke dalam comberan sekalipun dia tetap emas.  itulah motto hidup yang selalu dipegang teguh oleh Andi Arifin Musba, anggota DPRD kabupaten Wajo. Dengan motto hidup itulah yang akhirnya membuat Andi Arifin  sangat dihargai,dihormati dan dicintai oleh semua kalangan tidak terkecuali anak kecil sekalipun .
    Saat berbincang santai dengan Kibar Belawa Tosagenae di Rumahnya di Menge Belawa  beberapa waktu sambil di dampingi isteri yang telah memberinya 2 orang putera .Andi Arifin mengungkapkan bahwa dirinya tidak ada apa-apanya tanpa dukungan dari semua pihak termasuk saat saya menjadi anggota di DPRD Wajo Ibarat menebang pohon saya hanya kampak ujarnya merendah, padahal masyarakat Wajo terutama masyarakat Belawa tahu bahwa sejak menjadi anggota DPRD di Wajo banyak yang telah diperjuangkan.sehingga di tahun 2013 ini saja Belawa kebanjiran " Proyek" 
    Sikap rendah hati dan kesederhanaan yang dimiliki pria satu ini tergambar jelas saat pertama kali membuka usaha bengkel las kecil-kecilan di rumahnya tahun 2000 lalu.pekerjaan kasar sekalipun dilakukannya sendiri tanpa mau menyuruh-nyuruh orang lain padahal dia masih keturunan darah biru ( bangsawan ) bahkan tidak segan - segan membantu orang lain.Sikap rendah hati yang dimiliki Andi Arifin Musba diwarisi  dari bapaknya, Andi Bau Musba yang lebih populer disapa datu Cebba.
    Datu Cebba juga begitu dia rendah hati tapi kalau sudah menyangkut prinsip hidup dia sangat tegas tutur Ambo Tang salah seorang warga Belawa menceritakan.
    Sebagai orang yang tumbuh besar di lingkungan keluarga yang banyak di birokrat  dan dunia politik  membuat dirinya juga memilih jalan yang serupa. Dunia politik menjadi pilihan hidupnya untuk memberikan sesuatu pada masyarakat Wajo. Menurutnya, jika ingin membangun Wajo, maka pengabdian total harus dilakukan jangan bekerja setengah-setengah.Totalitas pengabdiannya di bidang politik ini dibuktikan dengan sikap politiknya yang siap mngambil resiko keluar dari Partai Pemuda Indonesia (PPI) yang tidak lagi memenuhi syarat ikut pemilu dengan memilih Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan ( PDI Perjuangan) sebagai kendaraan politik yang dipergunakan untuk berjuang bersama-sama dengan masyarakat Wajo yang seide dan se visi dengannya.
    Suami dari Hj.Andi Ritajo Passamula,S.Pd, yang sehari-harinya bertugas sebagai kepala seksi pembinaan tenaga pendidik dan tenaga kependidikan di dinas pendidikan Kabupaten wajo   ini mengisahkan, saat dirinya pertama kali terjun di dunia politik banyak pengalaman berharga diperolehnya ternyata “Politik itu indah, jika dilakukan dengan apik, santun, sehat dan cerdas. tapi Jika politik tidak santun dan tidak mengikuti aturan, maka justru akan berbalik berdampak tidak positif,” tuturnya.( KBT- Akbar)

    Profil Caleg Kabupaten Wajo


    Nama                                  : Andi Arifin Musba
    Tempat/ tanggal Lahir          : Pare- Pare/ 18 Juni 1962
    Riwayat Pendidikan             : SD di Tanasitolo 1974
                                                 STN  di Pare- Pare 1977
                                                 SMA Nasional di Pare - Pare 1981
    Pekerjaan                            : Anggota DPRD Kabupaten Wajo





    Isteri :
    Nama           : Hj.Andi Ritajo Passamula, S.Pd
    Pekerjaan     : Guru SD 203 Leppangeng Kecamatan Belawa tahun 1991 - 2006
                          Penilik PLS Kabupaten Wajo tahun 2006 - 2012
                          Kasi Pembinaan Tenaga Pendidik & Tenaga    Kependidikan Diknas Wajo

    Guru SD 57 Menge Juara 2 Lomba guru berprestasi

    Kibar -Belawa,Dalam memeriahkan Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2013 lalu berbagai kegiatan dilakukan oleh UPTD Pendidikan Kecamatan Belawa,bukan hanya lomba yang diperuntukkan untuk siswa mulai tingkat PAUD sampai jenjang SLTA akan tetapi juga ada kegiatan lomba untuk para guru yakni lomba guru berprestasi.Salah seorang guru yakni Sitti Nuraeni,S.Pd,M.Pd yang sehari harinya mengabdikan diri di SD 57 Menge Belawa berhak untuk juara 2 untuk kategori guru berprestasi tingkat Kecamatan Belawa.
    Wanita kelahiran Pare-pare 13 Oktober 1970 puteri ke-8 dari 11 bersaudara anak pasangan M.Husain dan St.Arifah.
    Pendidikan formal pertamanya diperoleh tahun 1977 di SD 58 Menge yang sekarang berubah nama menjadi SD 57 Belawa tempatnya mengabdi sekarang,selepas SD tahun 1983 melanjutkan pendidikan di SMP Negeri Belawa tamat tahun 1986 serta SPGN Sengkang tahun 1989.
    Pada tahun 2000 terdaftar sebagai mahasiswa Universitas Muhammadiyah Makassar jurusan D2 PGSD,kemudian tahun 2005 melanjutkan pendidikan kesarjanaan pada Universitas Terbuka (UT) dengan jurusan yang sama PGSD dan yudisium tahun 2007.Seakan tidak puas dengan ilmu yang dimilikinya Sitti Nuraeni melanjutkan lagi Pendidikannya pada program pasca sarjana (PPs) Universitas Muhammadiyah Makassar jurusan bahasa dan sastra Indonesia dan diyudisium tanggal 15 Nopember 2012 lalu.
    Perjalanan kariernya sebagai guru diawali sebagai tenaga honorer di SDN 281 Menge.Beberapa tahun kemudian setelah menyelesaikan pendidikan D2 nya di Makassar Nuraeni mendaftar menjadi guru bantu.
    Tanggal 21 Mei 2003 melalui keputusan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Wajo No.1198/D.pd/A.A2/SPK/KP/2003 diangkatlah menjadi guru bantu di SD 57 Menge dan 2 tahun berselang SK CPNS digenggamnya walau saat itu ditempatkan di SD 379 malakke.tahun 2007 lalu dimutasikan ke SD 57 Belawa sampai sekarang.
    Disamping mengajar,banyak juga kegiatan sosial kemasyarakatan yang digelutinya misalnya pengurus Pokja Kecamatan Belawa,Pimpinan Nasyiyatul Aisyiyah (NA) Ranting Menge dari tahun 1995 - 2012 serta Penanggung Jawab Wilayah Layanan Mahasiswa (PJ WILAMA) UT Makassar tahun 2007 - sekarang.
    ( KBT -Akbar)

    Cerita Rakyat: TEBBA’ SAKKALENGNA MACERO

    Dahulu kala ada seorang laki-laki yg biasa menangkap ikan di sungai dgn memakai bubu/buwu (sejenis perangkap ikan ) pada suatu hari orang tersebut ingin melihat buwunya apakah sudah dapat ikan atau belum, namun ternyata tdk dapat ikan karena ada sebuah kayu yg menghalangi.. Singkat cerita, orang tersebut membuang/ melempar kayu tersebut jauh dari buwunya..
    Namun ternyata keesokan harinya kayu tersebut masih kembali menghalangi ikan masuk perangkapnya… Begitu berulang-ulang sampai orang tersebut bertanya2 dalam hatix kayu apa ini ? Namun diulangnya kembali membuang kayu tersebut sambil berkata ” Yakko lisu mompo pemeng.. Lau walako agi2 ugokengko ” (kalau engkau kembali akan kuambil ) dan ternyata ke esokan harinya kayu tersebut kembali lagi…
    Maka dibawalah kayu tersebut pulang kerumahnya…
    Sesampainya dirumah, kayu tersebut di gunakan sebagai tempat mengerjai ikan ( SAKKALENG) entah apa sebabnya banyak yang mengambil Tebba’ (serpihan) dari kayu/sakkaleng tersebut di gunakan untuk menarik hati perempuan (sangat ampuh) atau dipakai menjual dll.. Makanya dikenal dgn nama TEBBA’ SAKKALENNA MACERO..
    Sampai saat ini orang-orang tua kita masih ada yg percaya TEBBA’ SAKKALENNA MACERO adalah ajimat pemikat sukma (paddissengeng makkunrai) paling ampuh dan mungkin saja ada yg biasa (mappasikarawa botting) memiliki tebba’ (serpihan) dari kayu/sakkaleng tersebut (ikmb)

    SEKILAS TENTANG SYEH SAGENA/TOSAGENA

    Pada Tgl: 22-Oktober-2009 di sebuah kampung kecil Bernama TOSORA Kec.Majauleng Kab.Wajo, Saya duduk menatap sebuah Makam di halaman bekas Masjid yang diperkirakan telah berusia -/+700 Tahun yg kini telah menjadi situs, Makam tersebut adalah Makam pemilik masjid yang bernama: ASSYEIKH AL-HABIB JAMALUDDIN AL-AKBAR AL- HUSAINI atau biasa di kenal dengan panggilan Petta WalliE Setelah Membaca Al Fatihah kepada beliau, aku teringat dengan SYEH TOSAGENA/SAGENA yg cukup melegenda di BELAWA bahkan di daerah lain, apakah kedua sosok ini mempunyai keterkaitan dan apa pula kaitannya dengan BELAWA ? Berikut Penelusuran kecil-kecilku yg kudapat dari berbagai sumber termasuk hasil diskusi dengan silessurengta Ambo Tang Daeng Materru : Tahun 1300 M Danau Tempe atau bahasa para leluhur kita Tappareng Karaja masih merupakan Danau yang cukup Luas tidak seperti saat ini yang sudah berbentuk Rawa-rawa yang kian hari mengalami pendangkalan, Tosora yang merupakan pusat kota kerajaan Wajo saat itu cukup ramai termasuk bandar Niaga Tosora yang menghubungkan kerajaan lain termasuk kerajaan soppeng dan sidenreng. Adalah Petta WalliE setelah dari Aceh,Jawa dan mengajarkan Ilmu Islam kepada beberapa muridnya yg saat ini di kenal nama WALI SONGO beliau dan beberapa pengikutnya pun hijrah ke tanah bugis tepatnya di Tosora Wajo, karena mereka kaum pendatang mereka membuat perkampungan di seputar Tappareng Karaja (Danau Tempe saat ini) sekitar 35km dari Tosora, penduduk Wajo kala itu menyebut mereka kaum BA ALAWIYAH jadi
    kalau penduduk ingin ke kampung tersebut mereka mengatakan: “Maeloka Lao Ri Kampongna Tau Ba ‘alawiyah E”, dan Seiring
    perjalanan waktu, glottal- glottal kata “Ba Alawiyah” perlahan berubah menjadi BELAWA .Ditengah Kepercayaan Animisme yg masih
    dianut penduduk kerajaan Wajo, kaum Ba Alawiyah dikomunitasnya tetap hidup secara Islam bahkan Petta WalliE mempunyai murid
    dan kemungkinan di antaranya adalah SYEH SAGENA atau yang lebih populer dengan nama SEHÉ’ TOSAGENA. Seiring waktu kampung Ba Alawiyah (Belawa)
    semakin ramai karena tanahnya yg subur dan ikan melimpah dan saat ini telah menjadi Kecamatan di Kab.Wajo, tak banyak adat istiadat animisme atau kebiasaan orang dulu di daerah ini seperti daerah lain karena dari awalnya Belawa memang penganut ISLAM, Belawa Memang mempunyai banyak perantau karena memang cikal bakal daerah ini dari Perantau. SYEH JAMALUDDIN AL-AKBAR AL-HUSAINI adalah Guru Para Wali Songo di tanah jawa termasuk keturunannya yaitu Sunan Gunung
    Jati telah menjadi bagian dari Wajo dengan dibangunnya sebuah masjid di Tosora. Tak Banyak Lontara’ yang menulis tentang beliau atau mungkin para penulis lontara’ saat itu menilai Petta WalliE hanya orang Asing dan yang lebih penting Proses Islamisasi pada tahun 1600an yg di lakukan Trio datuk (datuk patimang,datuk ri bandang,datuk ri tiro) akan TERELIMINASI mengenai Islamisasi di tanahbugis.
    Pada tahun 1415 M -/+ 200 tahun sebelum kedatangan trio datuk tersebut. SYEH
    JAMALUDDIN AL-AKBAR AL-HUSAINI meninggal dunia dan dimakamkan di Tosora kec.Majauleng. Wallahu Wallam !!
    SYEH SAGENA (TOSAGENA) sendiri Wafat di Tanah Suci Mekkah dan di makamkan di pekuburan para wali disana yg bernama SUBAEKAH
    sedangkan di makam di jln.syeh Sagena belawa hanyalah makam ibunda dan tempat kelahiran beliau, namun beliau pernah berkata kalau kelak ada yang mensiarahi makamku maka datanglah ke Belawa.
    Walisongo atau Walisanga dikenal sebagai penyebar agama Islam di tanah Jawa pada abad ke 14. Mereka tinggal di tiga wilayah penting pantai utara Pulau Jawa, yaitu Surabaya-Gresik-Lamongan di Jawa Timur, Demak-Kudus-Muria di Jawa Tengah, dan Cirebon di Jawa Barat.(Wikipedia) Entah berhubungan atau tidak sebuah Desa di Lemahabang Cirebon bernama BELAWA bukan itu saja sebuah daerah di Iraq pun bernama BELAWA. Ketiga daerah ini lagi lagi mempunyai hubungan dengan Syeh Jamaluddin Al-akbar Al-husaini dan yang terakhir silahkan mencari daerah yang bernama BELAWA di India.
    (Coretan ini hanyalah sebuah pemikiran dari seorang anak manusia yang miskin ilmu dan pendidikan,mohon maaf apabila ada kesalahan)Written by ikmbnews

    Andi Nasri Alam Siswa Berprestasi dari Belawa

    Belawa-KBT
    Pintar di kelas,Hafal dan Fasih Mengaji,Jago main bulutangkis dan segudang prestasi lain,itulah sosok gadis mungil Andi Nasri Alam murid MI As'adiyah No.1 Puteri Belawa.Gadis Kecil buah hati Pasangan Andi Syamsu Alam dan Ernawati yang lahir di Belawa 5 Januari 2002 silam ini sejak balita sudah menunjukkan tanda-tanda. Menurut Syamsu Alam yang  yang sehari-hari membuka bengkel dan reparasi motor yang  lebih akrab dipanggil Andolong kala ditemui di rumahnya menuturkan bahwa anaknya sejak kecil kalau lagi rewel dan menangis tiba-tiba mendengar suara azan atau mengaji di mesjid maka serta merta diam dan sepertinya ingin mendengar suara itu,mudah-mudahan anak itu selalu mendapat hidayah harapnya.Andi Nasri ketika diajak bincang-bincang dengan media ini menuturkan bahwa dirinya tahun lalu juga ikut lomba hifdzil qur'an di Sengkang untuk tingkat kabupaten tapi hanya juara 2 dan tahun ini sudah juara 1.ketika ditanya cita-citanya Nasri spontan menjawab mau jadi pendakwah tutur gadis mungil yang hobby bulutangkis dan membaca ini (KBT-Akbar).

    Pengusaha Sukses dari Belawa


    Zain U, Mewariskan Piposs yang Melegenda 




    Basri Zain, putra Zain U menceritakan perjalanan perusahaan Zain U seorang saudagar tempo dulu yang terus berkembang hingga saat ini.
    Namanya kini diabadikan di mobil-mobil milik PO Piposs. Sebab jasanya untuk perusahaan ini serta dunia transportasi di Sulsel, memang tak sedikit. Zain U, dialah orangnya.

    Bus panjang itu melaju dengan kecepatan sedang di Daya, Jalan Poros Maros-Makassar, Selasa, 28 Agustus. Klaksonnya berbunyi sekali saat hendak berbelok ke Jalan Kapasa Raya. Mobil itu relatif masih tampak baru. Di bagian samping luarnya, tepat di bawah jendela, tertulis Piposs Zain U. Piposs adalah brand perusahaan otobus-nya. Lalu, Zain U?

    Di kantor pusat PO Piposs di Kawasan Industri Makassar (KIMA), jejak Zain U masih "terlihat". Di sebuah ruangan di lantai dua, seorang pria bernama Basri Zain bekerja. Dia putra Zain U. Dari Basri jugalah FAJAR mengetahui, Zain U adalah seorang saudagar tempo dulu yang hasil jerih payahnya masih dirasakan hingga kini.   

    Pada 1960, Zain menjalankan sebuah perusahaan pengangkutan. Belum punya nama. Yang memiliki brand hanya mobil-mobilnya. Pertama kali ada lima unit. Ada yang dinamakan Padaidi, Padaelo, Sipatuo, Sipatokkong. Bus-bus itulah yang lalu lalang di Sulsel, saat volume jalan relatif masih kecil. Sampai kemudian nama itu begitu mengakar. 

    Pada 1985, empat nama itu disatukan dengan akronim Piposs. Namun, ceritanya tak sesederhana itu. Ada proses panjang atau mungkin lucu yang mesti dilalui. Istilah Padaidi, Padaelo, Sipatuo, Sipatokkong, untuk mobil mulai muncul di Desa Tancung Purai, Wajo, pada akhir dekade 1950-an. "Kalau kita mau ke sana, bisa lewat Belawa, masuk dan terus ke paling ujung," ujar Basri.

    Kala itu, ayah Zain U yang bernama Useng, berprofesi sebagai penangkap ikan. Usahanya perlahan sukses dan mampu membeli satu mobil pikap. Jika sudah pulang menangkap ikan, rekan seprofesi kerap meminta menumpang. Useng nyaris tak pernah menolak dan selalu mengatakan "Padaidi". Lalu jika ada yang mengajak usai lebih awal, Useng sering mengiyakan dan bilang "Padaelo".

    Berikutnya istilah Sipatuo dan Sipatokkong juga populer. Sampai pada 1960, Useng membeli empat unit bus. Masing-masing diberi nama Padaidi, Padaelo, Sipatuo, Sipatokkong. Nah, Zain-lah yang mengelola perusahaan otobus itu. Saat itu belum memakai nama, namun sudah berbadan hukum. "Saya ini bisa disebut generasi ketiga, tapi bisa juga generasi kedua. Sebab, ayah pengelola pertama," sebut Basri.

    Basri sepertinya lebih sreg dikatakan generasi ketiga. Dia begitu menghargai dan selalu mengenang jerih payah kakeknya, Useng. Perjuangan keluarga yang membuatnya terus berjuang agar PO Piposs, usaha yang pertama kali dipimpin ayahnya. Menariknya, ayah Basri sebenarnya tak pernah melihat plan bertuliskan Piposs. Sebab, Zain U wafat pada 1970 atau 15 tahun sebelum perusahaannya resmi bernama PO Piposs. Namun, dialah yang membangun pondasi kemudian menjadikan perusahaan kokoh.

    Menariknya lagi, generasi Zain, yakni Basri Zain baru memimpin PO Piposs pada 2000 atau 30 tahun setelah sang ayah berpulang. Namun, pewarisan usaha tetap berjalan baik, setidaknya bisa dilihat dari tetap eksisnya perusahaan otobus ini. Setelah Zain meninggal, perusahaan dikendalikan kakak kandungnya, Sanusi U. Sebelumnya, Sanusi memang sudah terlibat di perusahaan untuk urusan eksternal.

    Basri sendiri mengakui, Sanusi atau sang paman memegang peranan yang tak kalah besar. "Paman saya itulah yang ketua Kadin pertama di Sulsel. Untuk mengukur kelegendarisannya, rekeningnya di BNI Makassar pada masa lalu itu bernomor 002. Hanya gubernur di atasnya. Saat itu, BNI memang baru masuk Makassar dan om saya termasuk nasabah pertama," klaim Basri.

    Saat menceritakan semua kenangan tersebut, Basri sempat terbata-bata. Dia terharu mengenang masa lalu, mengenang perjuangan kakek, ayah, dan pamannya. Tiga sosok yang menjadi perintis Piposs. Sebuah mobil Piposs yang dibeli 1960-an, pernah dinobatkan sebagai mobil tertua di Indonesia yang masih bertahan.

    Itulah mobil terakhir yang dibeli Zain sebelum meninggal. Penghargaan sebagai bus kuno yang eksis diberikan Jasa Raharja pada 2008. Diabadikan di sebuah kalender. Opelet yang dipakai dalam sinetron Si Doel Anak Sekolahan, juga dapat penghargaan serupa, namun dikategori mobil kecil.

    Sampai saat ini, Piposs masih ada. Armadanya 50 unit. Menurut Basri, perkembangan jumlah armada sebenarnya sangat lamban jika mengingat perusahaan sudah berdiri sejak 1960. Namun, pihaknya juga mesti realistis, persaingan perusahaan otobus makin sengit. Kalau mau beli bus terus tanpa perhitungan matang, bisa jadi bumerang. 

    Salah satu yang bisa jadi bukti bahwa Piposs masih eksis adalah sampai saat ini, perusahaan itu masih selalu menambah armada. Hingga Agustus tahun ini, Piposs membeli tiga armada baru, menggelontorkan uang Rp1,5 miliar. "Lihatlah. Uang sebanyak itu kita keluarkan untuk menambah armada dengan berbagai risiko," tukas Basri.

    Namun, dia akan terus berjuang Piposs bisa bertahan. Dia tak ingin mengecewakan Useng, Zain U, dan Sanusi U. Tiga orang itulah yang mewariskan sebuah perusahaan dengan brand yang begitu mengakar. Meski persaingan ke depan diprediksi akan semakin tajam, Piposs akan terus diupayakan melaju dengan segala pengalaman dan kharisma yang dimiliki. (/Fajar */sil)

    Pesona Danau Tempe


    Danau Tempe adalah salah satu obyek wisata di Sulawesi  Selatan yang banyak dikunjungi wisatawan, baik domestik maupun mancanegara. Danauyang luasnya 13.000 hektar ini, jika dilihat dari ketinggian tampak  bagaikan sebuah baskom raksasa. Danau ini menjadi sumber penghidupan, mencari  ikan, tidak hanya bagi masyarakat KabupatenWajo, tapi juga sebagian masyarakat Kabupaten Soppeng dan Sidrap. Disepanjang tepi danau, tampak perkampungan  nelayan bernuansa Bugisberjejer menghadap ke arah danau.

    Keistimewaan

    Danau Tempe merupakan penghasil ikan air tawar  terbesar di dunia, karena dasar danau ini menyimpan banyak sumber makanan ikan. Selain itu, danau ini juga memiliki spesies ikan tawar yang tidak dapatditemui  di tempat lain. Hal ini diperkirakan karena letak danauini berada tepat di  atas lempengan Benua Australia  dan Asia.
    Ditengah-tengah Danau Tempe, tampak ratusan rumah terapung milik nelayanyang berjejer dengan dihiasi bendera yang  berwarna-warni. Dariatas rumah terapung itu, wisatawan dapat menyaksikan terbit danterbenamnya matahari di satu posisi yang sama, serta menyaksikanberagam satwa burung, bunga-bungaan, dan rumput air yang terapung diatas permukaan air. Di malam hari, para pengunjung  dapatmenyaksikan indahnya rembulan yang menerangi Danau Tempe sambilmemancing  ikan.
    Disetiap tanggal 23 Agustus diadakan festival laut  atau juga seringdisebut Maccera Tappareng (mensucikan danau) yang  ditandai denganpemotongan sapi yang dipimpin oleh ketua nelayan setempat. Dalam acaraini, para pengunjung dapat menyaksikan berbagai atraksi wisata yangsangat menarik, seperti lomba perahu tradisional, perahu hias,permainan rakyat  (misalnya, lomba layangan), pemilihan ana? dara(gadis) dan kallolona (pemuda) Tanah Wajo, padendang (menabuh lesung),pagelaran musik  tradisional dan tari bissu yang dimainkan olehpara waria, dan berbagai  pagelaran tradisional lainnya.Pelaksanaan festival ini dimaksudkan agar nuansa kekeluargaan danpersatuan antar sesama nelayan tetap terjaga dengan prinsip ?3-S?,yaitu Sipakatau, Sipakainge, dan Sipakalebbi (saling menyegani, salingmenasehati, dan saling menghargai). Dengan menyaksikan festival ini,para pengujung dapat mengetahui tentang kebudayaan masyarakat Bugis diSulawesi  Selatan, khususnya Bugis Wajo.

    Lokasi

    Danau Tempe terletak di Kecamatan Tempe, Kabupaten Wajo, Provinsi Sulawesi Selatan.

    Akses

    Danau ini terletak 7 km dari Kota Sengkang, ibukota  Kabupaten Wajo.Untuk mencapai tempat ini, dari Kota Sengkang ke Sungai Walennae dapatditempuh melalui jalur darat dengan menggunakan mobil pete-pete(mikrolet). Dari Sungai Walennae menuju ke Danau Tempe ditempuh selama30 menit  dengan menggunakan perahu motor atau katinting, denganbiaya sekitar Rp.  50.000,- hingga Rp. 75.000,- per-orang.

    Belawa, memasuki Awal Abad XX (bag. 1)


    Belawa, memasuki Awal Abad XX (bag. 1)
    Petikan tulisan Andi Oddang
    Mengetahui jika junjungan yang dihormati dan disayangnya bagai puterinya sendiri telah wafat di Negeri pengasingannya, Petta Pangulu amat berduka. Dikisahkan oleh NEnE Rukka bahwa pada suatu hari, beliau keluar dari biliknya dan langsung menuju ke sungai. Panglima tua yang semakin uzur itu mandi cukup lama lalu naik kembali ke Saoraja sambil membawa sebongkah batu sungai berwarna coklat kelabu yang berukuran agak panjang (panjang kira-kira 50cm dan berdiameter kira-kira 20 cm). Beliau meletakkannya bersandar pada dinding "jajareng" (dinding tengah) seraya berkata, : "Akko matEka' baja sangadiE, iyEna matu mEsaku.." (sekiranya esok atau lusa aku meninggal dunia, maka inilah batu nisanku..).
    Maka berlakulah ketentuan Allah Azza Wajallaa. Tidak lama setelah peristiwa itu, Petta Pangulu wafat dalam tahun 1917. Menurut kesaksian sepupu ayahanda penulis bernama I BeccE' Pamuri  (umur 85 th) pada tahun 2005 di TippuluE, bahwa : " Baiccu'mopa na lElE ri pammasENa Petta Pangulu. NaEkia manessa paringerrangku Ero wettuE, MONI SIBELAWA ballili'E ri wettu riulEE bare' Petta Pangulu lao ri Jara'E.." (Aku masih kecil ketika Petta Pangulu wafat. Namun masih jelas dalam ingatanku bahwa waktu itu ketika Jenazah Petta Pangulu diusung menuju pemakaman, seluruh senapan di Belawa ditembakkan keudara, gegap gempita mengiring keberangkatannya...). Sesuai wasiatnya, makam beliau ditandai dengan sebongkah batu sungai berukuran kecil diatas pusaranya. MenurutNEnE Rukka, maksud beliau tersebut agar para pengagumnya tidak  mengkultuskan makamnya. Begitulah akhir seorang legendaris pada jamannya yang merupakan Panglima terakhir kerajaan Belawa.
    Adapun halnya dengan Saoraja Bakkaa'E sepeninggal Petta Pangulu, konon Saoraja tersebut "dijual" pada seorang bangsawan yang berdiam di Bilokka (Sidenreng). Tidak ada yang tahu persis, siapa  diantara anaknya yang menjual dan mengapa situs peninggalan La Paranrengi Daeng Sijerra tersebut diperjualbelikan. Bahkan bekas-bekas berdirinya komplek Saoraja itu menurut ayahanda penulis, terletak dipinggir sungai KarajaE sebelah barat, persis dimulut jembatan SappaE sekarang ini.  Kira-kira 5 meter sebelah selatan jembatan tersebut, terdapatlah  sebuah"Limpungeng" (kedung atau bahagian sungai yang dalam) dimana senapan, amunisi dan peluru para Lasykar Belawa dibuang (ditenggelamkan) atas perintah Arung Belawa.
    Selama hidupnya, Petta Pangulu memiliki 2 orang isteri sah dan beberapa gundik yang kesemuanya itu melahirhan beberapa putera dan puteri. Kedua isteri sah beliau adalah puteri La Mude' SullEwatang Laomapada dengan I RawE(kerabat Bettempola) yang masing-masing bernama : I Tuwo dan I Bada'. Dari I Tuwo, beliau mendapatkan keturunan masing-masing bernama : I Munta Daeng Mattappa, (wafat di Jambi), I Patinrosi ArungngE Daeng Sagala dan La Massi' Daeng Pagiling. Setelah I Tuwo meninggal dunia, maka atas ininsiatif Arung Belawa (Datu Tenri Kawareng) maka beliau diperjodohkan dengan adik I Tuwo (ipasitola angkalungeng) bernama ; I Bada'. Dari isteri kedua inilah maka lahirlah : La Makkarumpa' (wafat di Jambi). Sementara dari beberapa gundiknya juga mendapatkan keturunan yang tidak dapat diuraikan pada kolom ini.

    Setelah lowong beberapa tahun lamanya, maka dinobatkanlah kemenakan Arung Belawa terdahulu bernama : La Onro Arung Belawa (putera I Panangngareng Datu Madello dengan La MappangilE Addatuang Sidenreng). I Panangngareng Datu Madello adalah adik kandung I Tenri Kawareng Arung Belawa MallinrungngE ri Pompanua. Arung Belawa ini masih berumur remaja ketika dilantik menjadi Arung Belawa. Menurut beberapa sumber yang penulis dapatkan, antara lain : La Maccaning (Wa Caning Alm.) bahwa masa pemerintahan baginda yang berumur amat muda ini menjadikan Belawa menjadi aman tenteram.  Salahsatu gebrakan awal baginda adalah dengan memprakarsai pembangunan Mesjid Raya  yang kini dikenal sebagai Mesjid Darussalam yang terkenal itu. Talenta kepemimpinan Datu La Onro berkat wawasannya yang luas terhadap kondisi Sulawesi Selatan pada masa itu yang didapatkan dari didikan orang tuanya. Perlu dikemukakan disini, bahwa La MappangilE Addatuang Sidenreng (ayahanda Datu La Onro) adalah putera La ParEnrEngi KaraEng TinggimaE seorang Pangeran Tana Gowa yang dapat dikatakan sebagai "Arung Ajattappareng". KaraEng TinggimaE' pun sesungguhnya adalah Pangeran Tana Wajo karena beliau adalah putera Ishak Manggabarani KaraEng MangEppE' Petta MatinroE ri Cappa' Galung Arung Matoa Wajo ke-XLIII dari permaisurinya bernama : I Dala WEttoing KaraEng KanjEnnE'.

    Tersebutlah pada masa yang sama, bertahtalah La Patongai (bergelar Datu Bolong) di Doping. Daerah yang merupakan kawasan Tana Wajo yang dulunya bernama PEnrang. Tahta itu adalah merupakan warisan Baginda dari Nenekdanya yang bernama : Sompa ri Timo MajjampaE Petta PabbatE PEnrang. Baginda tinggal di Doping bersama isterinya bernama :  I Bossa setelah isteri Baginda yang terdahulu bernama : Bau' Mapparimeng Datu Madello wafat beberapa tahun sebelumnya. Selain itu, baginda ditemani oleh kakandanya dari lain ibu bernama : I Batari Petta Lonra (juga puteri La TEngko Petta Manciji'E ri Wajo dengan I REwo Ana'na Arung Batu). Namun setelah beberapa tahun menetap dan memerintah di Doping, terjadilah "perselisihan" dengan Dewan Petta EnnengngE disebabkan sesuatu hal yang tidak dapat diuraikan pada tulisan ini. Akibatnya, Baginda meninggalkan Doping bersama isteri, anak, kakak dan segenap sahayanya menuju ke Belawa dimana kemenakannya (Datu La Onro) sedang bertahta di Belawa.

    Sebagaimana yang telah dikemukakan pada bab terdahulu, bahwa Datu La Onro Arung Belawa adalah putera I Panangngareng Datu Madello, saudara kandung Datu Bolong. Mengetahui pamandanya tinggal menetap di Belawa dan sedang membangun Saoraja di JampuE, Datu La Onro Arung Belawa melantik (napasalEppangi) "bibinya" yakni : I Bossa selaku SullEwatang Belawa Orai'. Namun tidak beberapa lama kemudian disebabkan suatu hal, Datu La Onro Arung Belawa pergi meninggalkan Belawa dan menetap di Sidenreng, negeri kekuasaan ayahandanya.

    Setelah kepergian Datu La Onro, maka dinobatkanlah La Patongai Datu Doping menjadi Arung Belawa. yang merupakan Arung Belawa terakhir karena setelahnya, 
    tidak ada lagi Arung Belawa yang dilantik (IpakkalEjja' ri Tuppu Batu Tana Bangkala'na Belawa). Berselang beberapa waktu setelah penobatannya, Baginda menempatkan Kakandanya ( I Batari) menjadi Petta Lonra. I Batari Petta Lonra menikah dengan sepupu sekalinya (juga sepupu satu kali Datu Bolong) bernama Petta Landeng, putera Sitti Hawang Datu MakkunraiyyE (saudara kandung La TEngko Petta Manciji'E).

    Baginda Datu Bolong merupakan seorang Raja yang kharismatik dan banyak kisah menarik seputar masa hidupnya. Semasa kecil, penulis pernah mendengar cerita tentang Baginda Datu Bolong dari seorang Makassar bernama Bilala' Nongci (Bilal mesjid Lonra). " Iya', Mangkasa ka', ana'. Maddarupang-rupangni Arung Maraja pura utuju pakkita. NaEkia, dE'pa gaga pada karame'na Datu Bolong..." (saya adalah orang Makassar. Sudah banyak raja-raja yang pernah kulihat, namun belum ada yang menyamai keramatnya/kharismanya paras Datu Bolong).

    Tersebutlah sebuah kisah yang dituturkan oleh Andi Patau' (adik kandung ayahanda penulis), pada suatu ketika Datu Bolong mendapat undangan dari Andi Mappanyukki' Sultan Ibrahim Datu Suppa' Petta Mangkau' ri Bone. Baginda diundang ke Watampone untuk menghadiri rapat (Tudang Ade') yang dihadiri kalangan Raja-Raja Se-Sulawesi Selatan untuk membicarakan perihal dukungan terhadap Proklamasi Kemerdekaan RI....

    Sebagaimana dituturkan Pamanda yang waktu itu membawa "Saleppa" (Kotak Sirih) baginda Datu Bolong, bahwa  Arung Belawa Andi Patongai datang agak terlambat pada majelis itu. Oleh Pattumaling (Petugas Protokoler Istana), baginda ditempatkan agak jauh dari posisi "Ulu Tudangeng" yang ditempati Baginda ArumponE (Andi Mappanyukki'). Tiba-tiba ArumponE menyeru pada Pattumaling, : "TaniajE' akkoro monro tudangenna Andi Patongai. Akko maiyyE tudangenna..." (Bukan disitu tempatnya Andi Patongai. Mestinya disini...), kata Petta Mangkau'E tersebut sambil menunjuk tempat kosong disampingnya. Sejak itu, termahsyurlah Baginda Datu Bolong sebagai seorang raja dari sebuah negeri kecil, namun sangat diutamakan sebagai seorang Datu Maddara Matase' (Maddara Takkuu), adinda I Tenri Kawareng Arung Belawa MallinrungngE ri Pompanua. Sejak itu pulalah, Baginda diberi gelar "Andi"sebagaimana ArumponE sendiri yang menyebutnya demikian.

    Perlu dikemukakan dari beberapa sumber yang salahsatunya dari Opu Tuan Abd. Halid (Almarhum) dari Bira, Bulukumba. Beliau menuturkan kepada penulis pada tahun 1999, bahwa : Asal muasal gelar "Andi" pada bangsawan Bugis dan Makassar berawal pada " I Mappanyukki Sultan Ibrahim " semasa baginda menjadi ArumponE. Pada suatu waktu, seorang berkebangsaan Perancis datang berkunjung pada Istana Beliau di Watampone. Pada perbincangan tentang seputar keadaan Sulawesi Selatan pada masa itu, orang Perancis tersebut senantiasa menyebut nama baginda ArumponE sebagai : "AndiEr Mappanyukki". Menurut juru bahasa yang menyertainya, itu berarti : "Paduka Yang Mulia Mappanyukki" atau dalam bahasa Inggris kira-kira disamakan dengan : You Are Majesty Mappanyukki". Maka setelah peristiwa itu, baginda ArumponE disebut namanya sebagai : Andi Mappanyukki, menyesuaikan dalam lidah bahasa Bugis.

    Menurut keterangan dari ayahanda, bahwa sejak beberapa lama sekembalinya dari WatamponE, Baginda Datu Bolong mulailah tertulis namanya sebagai "Andi Patongai". Pada masa itu tidak seorangpun di Belawa yang memakai gelar "Andi" selain Baginda. Namun sebagaimana halnya sesuatu yang lagi "Trend", maka mulailah beberapa gelintir bangsawan mencoba-coba menggunakan gelar tersebut. Hingga pada suatu waktu, seorang putera bangsawan bernama La MappangilE disebut namanya oleh La Kube' (salah seorang abdi Datu Bolong) disebut sebagai " Andi MappangilE " dihadapan Baginda. Seketika Baginda Datu Bolong marah besar seraya berkata : " Andi MappangilE nigajE'tu ?!. SEddimi iya' uwisseng riyaseng ANDI MAPPANGILE, iyya monroE ri Sidenreng (maksudnya :Andi MappangilE Addatuang Sidenreng)" (Andi MappangilE yang mana lagi ?! Cuma satu Andi MappangilE yang saya tahu, yaitu yang tinggal di Sidenreng..). Sungguh, baginda MallinrungngE tersebut begitu ketatnya menjaga tatanan agar tidak terjadi ketimpangan sejarah dibelakang hari.

    Andi Patongai Datu Doping Arung Belawa memiliki 3 (tiga) isteri sah selama hidupnya. Isteri Pertama bernama :Andi Patinrosi ArungngE Daeng Sagala (puteri La Muhamma' Tang Daeng Paliweng Petta Pangulu dengan I Tuwo ana'na La Mude SullEwatang Laomapada) mendapatkan seorang putera yang meninggal semasa bayi, bernama :Andi Bau Monri. Mereka bercerai dengan baik-baik karena Daeng Sagala tidak mau dimadu. Isteri Kedua bernama :Andi Bau' Mapparimeng Datu Madello ( Puteri Petta MorEwE, cucu DatuE La Pajung, Soppeng. Menurut Lontara' Panguruseng susunan Andi Nurdjaya Hamzah La Sumange'rukka) yang melahirkan : 1. Andi Bau' Patiroi, 2. H. Andi Bau' Singke' 3. Andi Bau Isa. Setelah  Datu Madello wafat, maka Baginda menikah lagi dengan Isteri Ketiga adalah :Andi Bossa (puteri Opu CakElE, menurut Alm. Andi BallohE') yang juga akrab dipanggil Petta Indo oleh anak-anaknya.  Dari isteri terakhir inilah, maka lahirlah : 1. Andi Bau' Sulolipu Petta KaraEngngE Camat Belawa I , 2. Andi Bau Mintang.

    Menjelang pertengahan Abad XX, hubungan Belawa dan Sidenreng terkadang masih terjadi percikan-percikan api yang memicu bentrokan di daerah perbatasan sebelah utara (Soppa'E dan Lonra YasE'). Atas prakarsa Andi Batari Petta Lonra (saudara seayah Arung Belawa Datu Bolong) diikatlah jalinan kekerabatan dengan beberapa Raja-raja lokal yang berada di wilayah Sidenreng, melalui pernikahan putera puteri mereka. Tujuan politik perkawinan ini tiada lain agar tercipta perdamaian yang meredam segala bentuk pertikaian dalam jalinan kekerabatan. Maka oleh Arung Belawa, pada suatu hari diutuslah Andi Batari Petta Lonra untuk menyampaikan lamaran bagi Andi Bau Sulolipu Petta KaraEngngE ke La Pannyiwi Arung Utting untuk mendapatkan puteri beliau bernama : Andi Bua. Maka pernikahan putera puteri Belawa dan Utting terlaksana dengan meriah yang mempersatukan kembali perhubungan kedua kerajaan yang bersaudara dimasa lalu. Wallahualam Bissawwab


    Danau Tempe Tempat Wisata Andalan Asia


    Danau Tempe Tempat Wisata Andalan Asia

    Danau Tempe merupakan danau purba yang terbentuk dari proses pembutakan muka bumi ribuan bahkan jutaan tahun yang lalu. Bisa berkunjung ke danau tempe,berarti anda termasuk orang yang beruntung. Mengapa? Karena berarti anda telah mengunjungi suatu tempat yang istimewa di belahan bumi ini.Danau Tempe tepat berada di atas lempengan benua  Australia-Asia dan menginjakkan kaki pada kedua benua sekaligus.Hebatkan? Itulah yang membuat Danau Tempe kabupaten Wajo Kebanggaan Dunia. Lelatar belakang penamaan nama Tempe bagi danau ini masih menjadi rahasia yang belum bisa di ungkapkan melalui sejarah .Tentunya  penamaan danau ini tidak ada kaitannya dengan tempe,makanan yang terbuat dari kedelei,bayak orang menyebutkan bahwa tempe berasal dari kata timpe yang menurut lontarak sukkuna wajo berarti sawah,Tapi apalah arti sebuah nama.Bernama Tempe atau Timpe tak ada masalah.Bagi masyarakat dan pemerintah, keistimewaan danau penghasil ikan terbesar di dunia ini perlu di populerkan agar wisatawan manca negara berduyung-duyung ke sini.
    Presiden R.I ketiga,Prof DR.Ing. H. B.J.Habibie punya kenangan manis pada danau ini.Suatu hari di tahun,melalui rekannya Prof.DR. Ahmad Amiruddin Pabittei,Gubernur Sulsel.kala itu Mengirimkan Bingkisan pada Drs.H.Tajuddin Noer,yang  waktu itu juga menjabat Sekwilda Kabupaten Wajo,Cindramata itu merupakan ucapan terima kasih BJ abibi yang telah dikirimi ikan kering hasil Danau Tempe.  Sejak dahulu kala,Danau Tempe memang memiliki spesies ikan tawar yang jarang dan bahkan tidak ada di tempat lain.konon di dasar danau menyimpan sumbe makanan ikan,yang di perkirakan ada kaitannya dengan letaknya yang berada di antara dua lempeng Benua. Dahulu kala danau ini menjadi salah satu pemasok utama ikan air tawar untuk provinsi Sulawesi Selatan bahkan sampai ke pulau Jawa. Selain jumlah ikan air tawar yang melimpah, danau Tempe juga unik karena masyarakat membuat rumah-rumah terapung di tengah danau. Persis masyarakat suku Bajo, masyarakat danau Tempe seperti tak bisa terlepas dari kehidupan ekosistem air. Menyusutnya hutan di hulu danau menyebabkan debit air turun drastis. Luas danau yang awalnya sekitar 35ribu hektar kini menjadi sekitar 30 ribu hektar pada musim hujan bahkan menyusut hingga hanya 10 ribu hektar pada musim kemarau. Meskipun begitu masih banyak masyarakat yang menggantungkan hidupnya pada hasil ikan dan pertanian di sekitar danau seperti yang dilakukan para generasi terdahulu. Perjalanan menyusuri sungai Walennae kota Sengkang menuju danau Tempe terasa mengasikan. Melihat aktivitas masyarakat rumah terapung layaknya masyarakat yang hidup di darat. Pesona Danau Tempe masih menjadi objek wisata andalan Pemerintah Kabupaten Wajo. Bahkan, danau yang menjadi ikon Kabupaten Wajo ini, diharapkan bisa menjadi ikon pariwisata provinsi Sulawesi Selatan. panorama alam Danau Tempe masih terjaga keasliannya karena belum tersentuh modernisasi.layak dijual di Asia, karena suasananya Dana Tempe masih alami. Misalnya, para ibu-ibu ataupun muda-mudi yang mandi di sungai masih menggunakan sarung dan anak-anak mandi tanpa busana penuh ceria.“Pemandangan seperti itu menarik minat turis manca negara. Dana Tempe memang pangsa pasarnya bukan untuk wisatawan domestik karena pemandangan seperti itu dianggap biasa,”
    Danau Tempe memiliki arti penting dari sisi Lingkungan. Selain sumberdaya ikan, ekosistem riparian di sekitarnya merupakan habitat berbagai jenis burung. Beberapa adalah burung migran yang melintasi antar benua dan singgah di danau tersebut di musim tertentu. Sebagian jenis burung masuk dalam Apendiks I dan II CITES (Convention on International Trade in Endangered Species), sebuah konvensi tentang perdagangan internasional atas hewan-hewan terancam punah.
    Hal menarik lainnya ditengah danau banyak  rumah terapung milik nelayan ( Manusia Rai ) yang berjejer dengan dihiasi bendera yang  berwarna-warni. Dari atas rumah terapung itu, wisatawan dapat menyaksikan terbit dan terbenamnya matahari di satu posisi yang sama, serta menyaksikan beragam satwa burung, bunga-bungaan, dan rumput air yang terapung di atas permukaan air. Di malam hari, para pengunjung  dapat menyaksikan indahnya rembulan yang menerangi Danau Tempe sambil memancing  ikan.Pasokan air bersih PDAM kota Sengkang juga berasal dari Danau ini.


    Negeri Asal Muasal

    Konsep Georafis, menurut tinjauan Sang Pakar


    Adapun yang membesarkan negeri
    Ungkapan yang kiranya merupakan konsep geografis yang menggambarkan wawasan berkehidupan masyarakat Sulawesi Selatan dan Barat sehingga menjadikan perbedaan warna kehidupan yang  menekankan  perbedaan aksentuasinya masing-masing. Bahwa pada baris bait ungkapan sejarah tersebut diatas adalah penggambaran jelas mengenai corak kehidupan masyarakat Sulawesi Selatan dan barat sejak dahulu kala, yakni : Pelaut, petani dan peniaga.
    "Jika dalam suatu ruangan ada sekelompok orang, maka pastilah ada yang lebih dulu memasuki ruangan itu dari yang lainnya", demikian menurut kata logika berpikir. Bahwa lama sebelum menulis pada blog ini, Ayahanda penulis  menyatakan dengan penuh takzimnya perihal negeri Luwu, bahwa : "Naiyya TanaE Luu, iyanaritu tana simulang angcajingenna toriolota.." (Sesungguhnya negeri Luwu adalah negeri asal muasal para leluhur kita..). Sesuatu yang kiranya tidaklah berlebihan, karena tertulis pada silsilah beliau, bahwa generasi I hingga generasi ke-VI yang tersusun dari atas kebawah semuanya adalah orang Luwu. Bermula pada generasi I, berderetan 3 (tiga) pasang nama yang masing-masing disebutkan, sebagai berikut : 

    I LapuangngE LEbba' Patoto Aji Palallo Lapatiganna Sangkuruwira Batara Unru Tomallangkana ri LettEwEro, suami Datu Palinge' Mutia Unruri Senrijawa, DEnru Ulawengna Guru ri Selleng.
    Guru ri Selleng I LapuangngE ri Toddangtoja mangkau' ri Peretiwi TuppubatuE ri Toddangsolo Maddeppa'E ri Wajampajang Opu Samuda PunnaE Liung, suami Sinaungtoja MassaobessiE Maddeppa'E ri Wajampajang, TunruangngE ri Matasolo', DEnru Ulawengna Patoto'E. 
    La Oddangriu Sangkabatara ri RuwanglettE, suami Batari IlE Ellung MangEnrE' ri Ulowongeng.
    Ketiga sejoli itu beranakpinak dengan mengawinkan keturunan mereka satu sama lainnya, hingga pada suatu ketika Patoto"E menurunkan puteranya, yakni : La Toge'langi Batara Guru Sunge' ri Sompa Aji Sangkuru Wira ManurungngE ri Tellampulaweng Pajung ri Luwu I menjadi penguasa Attawareng , yang menandai lahirnya Kerajaan Luwu. Sezaman dengan La Togelangi Batara Guru, terbitlah Tomanurung lainnya yang diturunkan di Cina, yaitu : La Tenriangke' ManurungngE ri Tellampulaweng Datu Cina I, yang menandai lahirnya Kerajaan Cina yang kelak berganti nama menjadi Pammana. Kemudian terjadilah pernikahan yang amat terkenal antar keturunan mereka, yaitu : Sawerigading Opunna Ware' (cucu La Patiganna) dengan We Cudai' DaEng ri Sompa Punna BolaE ri LatanEtE (cucu La Tenriangke'). Maka pada masa itulah dinyatakan sebagai penyatuan 2 wangsa, yakni Luwu dan Cina yang pada keturunan mereka mengidentiitaskan diri sebagai "Towugi" yang diambil berdasar nama ayahanda We Cudai', yakni : La Sattumpogi Punna LipuE ri Cina , yang kemudian menobatkan menantunya (Sawerigading) menjadi "Datu Cina".
    Pada generasi ke-II Patoto'E yang menandai lahirnya Kerajaan Luwu dan Cina, terbit pula To Manurung lain yaitu : TurubElaE Laurengpessi ri Coppo' MEru ManurungngE ri Sawammegga Datu Tompotikka I (putera La Oddangriu Sankabatara ri RuwallettE), yang menandai lahirnya Kerajaan Tompotikka.
    Hingga pada generasi ke-VII Patoto'E, yakni : Salinrunglangi Simpurusiang Mutiakawa Opunna Ware' ManurungngE ri Awo Lagading Pajung Luwu III, terbitlah pula seorang tokoh lain di negeri Sekkanyili' yang cukup jauh pula dari Negeri Luwu, yakni : La Temmalala' ManurungngE ri Sekkanyili Datu Soppeng I yang menandai kelahiran Kerajaan Soppeng.
    Kedua "To Manurung" tersebut melahirkan generasinya masing-masing yang ditempatkan pada generasi ke-VII Patoto'E, yakni : La Ana'kaji Pajung ri Luwu IV (putera Simpurusiang) dan La Maracinna Datu Soppeng II (putera La Temmalala'). Sezaman dengan kedua tokoh tersebut, yakni pada generasi ke-VIII dari Patoto'E di Luwu,  terbitlah beberapa Tomanurung (Orang yang turun dari khayangan) dan To Tompo (Orang yang timbul dari peretiwi/dunia bawah), diuraikan sebagai berikut :
    La MammatasilompoE ManurungngE ri Matajang Mangkau ri Bone I, suami We MattengngaEmpo ManurungngE ri Toro, yang menandai lahirnya Kerajaan Bone.
    ManurungngE ri TamalatE Sombayya Gowa I, isteri La Patala Bantang KaraEng TurijE'nE (KaraEng Bayo), yang menandai kelahiran Kerajaan Gowa.
    La BungEnge' ManurungngE ri Bacukiki, Addatuang SidEnrEng I, suami We Teppulinge' ManurungngE ri Lawaramparang, menandai kelahiran Kerajaan SidEnrEng. 
          Hal menarik jika menyimak uraian Sejarawan Prof. Mr. Dr. H. Andi Zainal Abidin Farid  yang mengemukakan  bahwa We Mattengnga Empo ManurungngE ri Toro (permaisuri La MammatasilompoE ManurungngE ri Matajang Mangkau ri Bone I), sesungguhnya adalah salahseorang puteri Sawerigading Opunna Ware' dengan We Cudai' Daeng Risompa yang dilahirkan di Uri Liung (Dunia Bawah) pada masa "Pasca Tinrelle'", sebagaimana halnya dengan saudarinya yakni We Patyanjala Tompo'E ri Bussa Empo, Permaisuri SSalinrunglangi Simpurusiang Mutiakawa Opunna Ware' ManurungngE ri Awo Lagading Pajung Luwu III (Abidin, The Emergence Of The Kingdom Of Luwu, makalah - 1994).
    Pada kesempatan lain, Sejarawan H.D. MangEmba menguraikan pula perhubungan Luwu dengan Gowa pada masa kelahiran Kerajaan dibagian selatan jazirah Sulawesi tersebut. Bahwa suami ManurungngE ri TamalatE Sombayya Gowa I sesungguhnya pula berasal dari Luwu pula. Tersebutlah salah seorang putera Salinrunglangi Simpurusiang Mutiakawa Opunna Ware' ManurungngE ri Awo Lagading Pajung Luwu III bernama "La Patala Bantang" yang disebutnya pula (H.D.Mangemba) sebagai "Laki' Padada" seorang pangeran yang gemar mengembara. Ia tidak berhasrat menjadi Raja, melainkan berburu Ilmu Keabadian yang disebutnya bernama : TengmatE Tengmatoa Malolo Pulana (Ilmu Tidak Mati, Tidak Tua dan Muda Selamanya). 

    Pengembaraan Laki' Padada yang hanya berbekal sebilah pedang yang bernama "sudanga" suatu ketika tiba di Sangalla' (Tana Toraja). Beliau memperisteri puteri Arung Sangalla dan menetap hingga beberapa lama. Namun hasratnya untuk berburu Ilmu yang diidam-idamkannya tersebut tidak tertahankan sehingga ia melanjutkan perjalanannya kearah selatan. Akhirnya pada suatu hari ia menemukan seorang guru yang berdiam pada suatu pulau yang kiranya mampu mengajarkan Ilmu yang diharapkannya. Namun kiranya takdir berkata lain, Laki Padada "Patala Bantang" gagal memenuhi syarat dalam proses mempelajarinya. Sang Pangeran nelangsa, berjalan ke selatan tanpa tujuan. 
    Ditengah perjalanannya, seekor "kuajeng" (Burung Garuda) menyambarnya dan membawanya terbang tinggi melintasi lautan luas. Sesampainya ditengah laut, Sang Garuda melepaskan Sang Patala Bantang yang terus jatuh ke lautan yang dalam. Namun berkat kesaktiannya, ia mampu bernafas didalam air dan terus berjalan menurut arah kakinya melangkah. Sekian lama mengembara dibawah laut, sehingga kakinya ditumbuhi  berbagai jenis lokan dan tiram. Akhirnya pada suatu hari, ia mendarat pada suatu pantai suatu negeri yang kini dinamai menurut namanya, yaitu : Bantayang (BantaEng). Masyarakat pantai yang melihatnya dengan penuh takjub, sehingga menjulukinya sebagai "KaraEng TurijE'nE" Tuan yang datang dari air). Kemudian perjalanannya diteruskan menuju Gowa, hingga disanalah pengembaraannya berakhir dengan mengawini Ratu Gowa pertama dan digelari sebagai : KaraEng Bayo. Setelah beliau memerintah Kerajaan selama beberapa waktu hingga melahirkan anak-anaknya, KaraEng Bayo beserta isterinya, "mallajang" (raib) untuk selamanya. Mereka meninggalkan benda-benda pusaka yang menjadi regalia Kerajaan Gowa hingga kini, salahsatunya adalah : Sudanga, pedang pusaka yang dibawanya dari Luwu.
     Berbeda pula dengan versi Puang Paliwang Tandilangi (putera Puang Sangalla), dimana tokoh "Laki' Padada" sesungguhnya adalah orang yang berbeda dengan "KaraEng Bayo". Dikatakan lebih lanjut, bahwa di "LEponna Bulang" (Tana Toraja) dikenal mitos "Tumanurung Tamboro Langi" yang memperhubungkan raja-raja Luwu, Gowa dan Sangalla'. Perkawinan Laki' Padada dengan Batara Lolo dari Luwu (putera Simpurusiang dengan Patyanjala) melahirkan putera-putera, sebagai berikut :
    Patala MErang (Patala MEa, versi Luwu) tinggal di Gowa menjadi "Somba" (suami Ratu) dengan mewarisi sebilah kelewang bernama "Su'dang" dan Panji "SamparajaE".
    Patala Bunga (Ana'kaji, versi Luwu) menjadi "Pajung" di Luwu dengan mewarisi sebilah kelewang bernama "Bungawaru" dan selembar panji bergelar "SulEngka".
    Patala Bantang tinggal di LEponna Bulang bersama Laki' Padada (ayahnya) serta mewarisi dua bilah kelewang bergelar : "Manian" dan "Dosso" serta panji bergelar "BatE Manurung".
         Terlepas dari kontroversi diatas, penulis lebih tertarik jika menelusuri penyebutan "Toraja" yang menjelaskan tentang masyarakat pertama di Sulawesi Selatan, terlepas dari kungkungan mytology. Sebagaimana dikisahkan, bahwa pada awalnya sekelompok orang yang membentuk diri sebagai suatu masyarakat di pinggir pantai yang dikenal sebagai "To Alau" (orang di timur). Seiring waktu, masyarakat itu semakin berkembang dan penyebutan identitas mereka sebagai "To Alau" semakin disederhanakan menjadi "To Luu", sehingga pengertiannya bergeser menjadi "orang di laut".  Sesuatu yang sesungguhnya "tentu saja" tidak dipermasalahkan, mengingat  perkampungan mereka terletak dipinggir laut. Seiring waktu, perkampungan itu kian besar, sehingga sekelompok keluarga memutuskan untuk berpindah kearah barat untuk memulai kehidupan bercocok tanam. Maka mereka merambah hutan pegunungan kearah barat hingga menemukan tempat yang cocok. Mereka membangun perkampungan itu sebagai hunian baru yang akhirnya dikenal oleh masyarakat "To Luu" sebagai "To Riaja" (Orang di Barat). Waktu berlalu dan zaman berganti, penyebutan "To Riaja" tersebut kini berubah menjadi "Toraja".
    Perjalanan pendahuluan tulisan ini akhirnya tiba dibagian selatan Pulau Sulawesi, diteruskan pula menyeberang lautan hingga tiba di Pulau Selayar yang disebut dalam naskah I La Galigo sebagai "Silaja". Suatu fakta yang menarik yang didapati pada masyarakat kepulauan tersebut, bahwa mereka menyebut bangsawannya dengan : OPU, sebagaimana halnya di Luwu. Dalam penelusuran penulis pada tahun 1999, penulis mengenal akrab dengan seorang Bangsawan setempat, yakni : Opu Andi Amar, dimana beliau menjelaskan bahwa mereka sesungguhnya adalah para turunan We Tenri Balobo, puteri Sawerigading dengan We Cudai'. We Tenri Balobo dalam naskah silsilah penulis sesungguhnya bernama lengkap : We Tenri Balobo BEloKalempi Sulo Jajareng Punna LipuE ri Sabangloang (isteri La Tenripale' Opu Lamuru Totappu Bello AlawErunEng Mutia Pajung) adalah bukan seorang "Datu Silaja", melainkan gelar tersebut dijabat oleh adik kandungnya, yakni : We Tenri Dio Batari Bissu Punna LipuE ri Mallimongeng Datu ri Silaja.
     Akhirnya  perhatian diarahkan ke "Tana Wajo", negeri dimana penulis dilahirkan.Tertulis pula pada Lontara H. Andi Sumange'rukka dimana keterangan ini diperoleh dari Sejarawan Prof. Mr.  Dr. H. Zainal Abidin, SH, bahwa menyangkut kisah "We Tadampali' Arung Masala Uli'E" yang dianggap sebagai salahsatu leluhur Bangsawan Wajo (khususnya wangsa BEttEmpola). Tersebutlah "Simpurusiang ManurungngE ri Talettu'" yang memperisterikan "We Patyanjala". Mereka melahirkan "Anakaji" yang kemudian berlayar ke seberang lautan untuk mempersunting 'We Tappacina", puteri Raja Mancapaik (Majapahit) yang bernama Sellamalama (nama lain Hayam Wuruk) dari isterinya yang bernama : Bara Aweling (Bhra Aweli). Anakaji memboyong isterinya kembali ke Sulawesi yang kemudian menganugerahkan hadiah penikahan kepada isterinya, sebuah negeri yang bernama : "Tana SitonraE" (gabungan negeri WagE, TEmpE dan Sengkang dimasa kini). Sengkang yang pada awalnya bernama "Siengkang" konon disebut demikian karena orang-orang Luwu dan orang-orang Majapahit (pengikut We Tappacina) bersamaan tiba dan menghuni negeri yang dihadiahkan tersebut.
    Kemudian saudara perempuan Anakaji yang bernama We Sakkewanua bersuamikan La Tuppusolo' di Uri Liung (Dunia Bawah), melahirkan putera puteri, yakni : La Mallala'E dan We Posi'tana. La Mallala'E kemudian menikahi sepupu sekalinya bernama We Tenri Abang (puteri Batari Toja, saudara Anakaji dan We Sakkewanua), melahirkan : We Tadampali, La UlengtEpu dan La WajokEteng.
    We Tadampali  terkena kutukan Dewata sehingga mengidap penyakit lepra. Maka demi menjaga agar rakyat Luwu tidak terjangkit penyakit menular itu, terpaksa We Tadampali beserta segenap pengikutnya dihanyutkan dengan dibekali benda-benda pusaka kerajaan yang dibawa La Mallala'E dari Uri Liung, yaitu : Sebilah kelewang bergelar La TEakasi, sepucuk tombak bergelar La Ula Balu dan sebilah badik kecil bergelar Cobo'E. Hingga pada perjalanan masa pembuangannya, We Tadampali terdampar disuatu wilayah yang kini dikenal sebagai : Tosora (berasal dari kata TosorE : orang terdampar) yang kelak menjadi Ibukota Kerajaan Wajo. We Tadampali mendapatkan kesembuhan berkat jilatan "TEdong Buleng" (Kerbau Bulai) yang kemudian dipersunting oleh La Mallu' Toangingraja Arung BabauwaE  (Bone Utara).
    Menelusuri lebih jauh perihal leluhur masyarakat Sulawesi Selatan, kiranya tidaklah berlebihan jika sumber-sumbernya dirambah pada muara I La Galigo, naskah tertua Sulawesi yang ada. Disebutkan bahwa, "Pajung Luwu" sesungguhnya memiliki hubungan kekerabatan dengan berbagai Raja-Raja di banyak negeri pada zaman keemasannya, antara lain : 
          1. La Tenri Tatta ri Gima (Bima, Nusa Tenggara)
          2. La Tenri Peppang ri Wadeng (Gorontalo)
          3. TopangkElareng ri Taranati (TernatE)
          4. La Temmadatu ri Butung (Buton, Sulawesi Tenggara)
          5. Guru La Sellang Puang Palipada ri MassEnrEngpulu (EnrEkang)
          6. Puang Pongkopadang ri Pitu Babanna Binanga (Sulawesi Barat)
          7. dll..
    Kemudian Sawerigading dijelaskan memiliki 70 orang sepupu sekali (sapposiseng cEra' lebbi') yang menjadi penguasa pada berbagai wilayah, antara lain disebutkan :
           -  La Mattulia ri Matano
           -  La Temmacelling ri BaEbunta
           -  La Maracinna ri Rongkong
           -  La Maranginang ri Masamba
           -  Guttu Patalo ri Bua
           -  La PawisEang ri Ponrang
           -  LA Saddakati ri Larompong
           -  La Rumbalangi (La Rumpang Langi) ri MEngkoka
           -  LA Banawa ri Duri
           -  Guttu Pareppa ri Toraja
           -  EllungmangEnrE' ri Tondong (Sinjai)
           -  La Pawawoi ri Balannipa (Mandar)
           - dll..
    Menyimak uraian perihal leluhur pada periode "Tumanurung" diatas, kiranya dapatlah disimpulkan bahwa sesungguhnya benar adanya jika "Luwu" dikatakan sebagai "Negeri Asal Muasal", sehingga pembahasan perihal "Kesatuan Silsilah" dalam periode Lontara dapat dilanjutkan pada bagian berikutnya dalam tulisan ini.
    Kesatuan Kerangka Masompunglolo
          Beberapa waktu yang lalu, dalam sebuah perbincangan dengan Bp. H. Bustaming, S.Pd, M.Si (Kabid. Olahraga Dis.OPP Kota Parepare), penulis sempat berseloroh, "..menurut pendapat saya, yang disebut sebagai Suku Bugis pada masa ini belum tentulah "Ugi" yang dimaksud pada berbagai Lontara. Justru saya curiga jika "Ugi" yang dikisahkan pada "Lontara La Sampuraga" adalah "Orang EnrEkang" pada masa kini..". Sontak beliau yang saya tahu "berasal"  dari EnrEkang tersebut terperangah !. "PEkkogi tasengngi, ndi' ?!" (Bagaimana anda bisa mengatakan demikian, dik ?)
    Bukan apa-apa, kadang-kadang saya hampir-hampir tidak mengerti "Bahasa Bugis" yang tercatat pada banyak Lontara Bugis sendiri. Begitu banyak kosa kata lama  yang tidak digunakan sehari-hari dikalangan masyarakat yang dikatakan sebagai "Bugis" pada masa kini, justru masih digunakan pada bahasa sehari-hari masyarakat EnrEkang hingga hari ini. Sebagai contoh, penyebutan warna putih dalam beberapa Lontara Ugi', yakni : "Mabussa" dari asal kata "Bussa" atau "Busa". Orang EnrEkang masih menyebutnya demikian hingga kini, sementara dalam bahasa Bugis masa kini menyebutnya "MaputE" dari asal kata "PutE", kata yang mestilah berasal dari Bahasa Melayu. Kemudian penyebutan terhadap "kuburan", orang Bugis masa kini menyebutnya sebagai : "Kubburu'", sementara orang Konjo di Tanjung Bira (Bulukumba) menyebutnya sebagai : "Panrang" yang tentu saja berasal dari kata "panreng", sebagaimana tertulis pada banyak Lontara Bugis pula.
    Membuka perbendaharaan lama, meminjam istilah Buya Hamka, penulis mencoba menguak kesatuan dalam keberagaman lewat pintu "Panguriseng" yang dalam kosa kata aslinya disebut sebagai "panguruseng" (pusat kesatuan), yang kemudian disebut sebagai "sitambung" dari induk bahasa melayu, yakni "stambon" serta lebih diperkaya pula dengan bahasa Arab, yaitu : Silsilah.
    Seorang kerabat kami menyanggah dan meragukan jika konsep kesatuan dalam "berleluhur" ini dapat  dijadikan sebagai pijakan dengan berdasar pada silsilah para bangsawan,sebagaimana diuraikan nanti. Bukankah terlalu naif jika itu dijadikan dasar kebersamaan, sementara "tidak semua" kita berasal dari turunan Bangsawan ?, demikian pertanyaan beliau. Maka penulis menguraikan dengan hati-hati, bahwa pada zaman dahulu ketika para bangsawan menyelenggarakan tradisi "diplomasi pernikahan" sebagaimana yang dirintis oleh Puatta TorisompaE (La Tenri Tatta DaEng SErang Petta MalampE'E Gemmekna) melalui kemenakannya, yakni "La Patau Matanna Tikka MatinroE ri Naga Uleng", mereka tidak datang sendiri, melainkan bersama dengan para pengikutnya dalam jumlah banyak yang nantinya mengadakan pula perkawinan silang dengan anak negeri setempat. Sebagai contoh, pernikahan agung  "La Patau Matanna Tikka MatinroE ri Naga Uleng"  dengan "We Yummung Datu Larompong" (puteri Sattiaraja Pajung ri Luwu XIX dengan Petta MatinroE ri LawElareng) tentu saja membawa pengikut masing-masing, serta kemungkinan besar pada generasi yang sama terjadi pernikahan pula diantara mereka.
    Lagipula, pada masa ini kiranya sulit  mendapatkan orang yang tidak memiliki hubungan darah dengan para Raja dari masa-masa lalu. Mungkin saja bukan dari lapis kedua diatasnya, tapi bisa saja dari lapis-lapis berikutnya. Seseorang menganggapku pula terlalu naif dengan pemikiran ini. Apa benar ?!, tanyanya. Coba saja anda menghitungnya dengan baik, kataku. Setiap orang (individu) memiliki ayah dan ibu yang itu diletakkan pada generasi I diatasnya. Kemudian pada generasi II, tentu saja berkembang menjadi 4 orang (ayah ibu dari ayahnya dan ayah ibu dari ibunya). Lalu pada generasi III, tentu saja berkembang menjadi 16 orang. Maka generasi IV, jumlah generasi III yang 16 orang itu dikalikan menjadi 4 lagi, hasilnya semakin berkembang menjadi 64 orang. Inipun merupakan perhitungan bagi sebuah bagan silsilah "sederhana". Dapat dibayangkan, jika sangat kecil kemungkinan dalam generasi ke-IV setiap orang yang berjumlah 64 orang tersebut tidak satupun yang merupakan "keturunan bangsawan", walaupun setetes sekalipun ?. Akhirnya berdasar itulah, sehingga orang-orang tua kita senantiasa berwasiat, "Aja' lalo gaga tau mupakariawa.., nasaba' niga missengngi abbatireng maneng-manengna sEddiE tau ?" (jangan pernah memandang rendah seseorang.., karena siapakah kiranya yang tahu seluruh asal muasal seseorang ?).
    Perihal lain yang dapat menyebabkan terjadinya peralihan identitas "asal negeri" bagi masyarakat Sulawesi Selatan dan Barat dimasa kini adalah, terjadinya migrasi pada masa perang dengan Kolonial Belanda. Mereka meninggalkan negeri kelahirannya dengan berbagai alasan, antara lain : peperangan dengan Pemerintah Hindia Belanda yang membuat mereka "tersingkir" ke negeri lain, contohnya : pengunsian ArumponE We Tenriawaru "I Pancaitana" BessE' Kajuara ke Suppa  (Pinrang) dalam bulan Desember 1859, akibat terdesak oleh pasukan General Van Swieten  dan sekutu bumi puteranya yang rata-rata terdiri dari kaum aristocrat Bone sendiri. Pengunsian itu merupakan "migrasi" besar-besaran sebagian Rakyat Bone yang terdiri dari sisa-sisa pasukan yang setia beserta keluarganya, turut serta mengawal Ratu-nya sekeluarga ke Negeri Suppa yang jauh. Tiga tahunkemudian, tepatnya dalam tahun 1862, We Tenriawaru "I Pancaitana" BessE' Kajuara dinobatkan oleh rakyat Suppa selaku Datu Suppa hingga wafatnya dan mendapatkan gelar kehormatan sebagai "Petta MatinroE ri Majennang, Suppa". 
    Setelah seratus tahun berlalu, sebagian keturunan  We Tenriawaru "I Pancaitana" BessE' Kajuara Mangkau ri Bone XXVIII tersebut dengan tanpa ragu menyatakan diri sebagai " To Suppa", sekiranya ditanya daerah asalnya. Demikian pula halnya dengan turunan para pengikut beliau yang kini tersebar dan beranakpinak di Suppa. Walaupun dalam tenggang waktu yang tidak terlalu lama kemudian, yakni pada tanggal 12 April 1931, salahseorang cucu We Tenriawaru "I Pancaitana" BessE' Kajuara Mangkau ri Bone XXVIII dinobatkan pula selaku Mangkau ri Bone, yaitu : Andi Mappanyukki' Sultan Ibrahim Datu Lolo Suppa Petta MatinroE ri Panaikang.Hal yang sama dapat pula terjadi dari peristiwa sebaliknya, misalnya  pada pasca Perang Makassar,   Petta TorisompaE (Arung Palakka Petta MalampE'E Gemme'na) yang membagi-bagikan tanah kepada para pasukan setianya di Labakkang (Pangkep). Mereka adalah lasykar yang berjasa telah mengikuti Petta TorisompaE sejak perantauan di Batavia (Jakarta), ekspedisi perang ke Pariaman (Sumatera Barat), Perang Makassar,  hingga ekspedisi penaklukan lasykar KaraEng GalEsong dan KaraEng Bontomarannu di Kakaper, Jawa Timur. Kini keturunan para lasykar khusus asal Bone dan Soppeng tersebut lebih mengenal diri sebagai "Orang Labakkang", tanah kelahirannya.
    Beberapa kejadian lainnya yang juga turut mengubah status anak negeri ini, walaupun tidak sampai mengubah akar budaya asalnya, antara lain disebutkan disini, yaitu : 
    Para turunan Syekh Yusuf "Tajul Khalwati" Tuanta Salamaka yang tersebar di Sulawesi Selatan, Banten, Srilangka hingga Cape Town (Afrika Selatan),
    Turunan I Mannidori KaraEng GalEsong (Putera Sultan Hasanuddin) yang tersebar di Pulau Jawa, diantaranya yang terkenal adalah Pahlawan Nasional Dr. Wahidin Sudirohusodo dan Setiawan Djodi,
    Turunan Opu nan Lima yang tersebar di Riau, Kalimantan hingga Malaysia yang menurunkan para Yam Tuan Muda Riau, Sultan MEmpawa, Sambas dan Pontianak, diantaranya yang terkenal adalah Pahlawan Nasional asal Riau, yakni  Raja Aji Yamtuan Muda Riau Marhum Teluk Ketapang dan Sastrawan Raja Ali Haji,
    Turunan La Tenri Dolong To Lebba'E Datu Pammana yang banyak tersebar di Sumatera dan Kamboja,
    Turunan DaEng TuagE', bangsawan ksatria Wajo yang tersebar pula di Siak Sri Indrapura (Riau), turunannya yang terkenal adalah : Laksamana Raja di Laut dengan Perahu Lancang Kuningnya yang terkenal,
    Turunan KaraEng Aji, pangeran Makassar yang menebar turunanannya di Pahang, Malaysia. Turunannya yang terkenal adalah PM. Malaysia Tun Abdul Razak dan puteranya, PM. Malaysia Tun Najib,
    Turunan La Rajadewa Arung Belawa yang tersebar di Singapura,
    Turunan para orang Wajo yang telah membuka Samarinda hingga kini banyak tersebar sebagai masyarakat terkemuka di Kutai Kertanagara (Kalimantan Timur),
    Turunan para Sultan Bima dan Sumbawa yang berhubungan langsung dengan silsilah Kesultanan Gowa, 
    Turunan KaraEng Ballasuka dan KaraEng Pao (Sinjai) yang dibuang oleh Pemerintah Gubernemen Belanda ke Cianjur (Jawa Barat) dalam tahun 1862, sehingga salahseorang keturunannya yang terkenal adalah DaEng Kanduruan Ardiwinata seorang tokoh sastrawan Sunda dan Sesepuh paguyuban Pasundan,  serta masih banyak lagi yang lainnya.
    Walaupun mengingat keterbatasan ruang pada judul tulisan ini untuk menguraikan silsilah para putera Bugis Makassar perantau yang tersebut diatas satu demi satu, namun pada kesatuan silsilah yang akan diuraikan berikut ini kiranya dapat merangkum mereka yang berada menetap di Sulawesi maupun yang sudah terlahir diluar Sulawesi. Sebagaimana diwasiatkan oleh para pendahulu, bahwa "Duami malebbi riyala bokong temmawari ri linoE, iyanaritu (hanya dua bekal berharga yang tak akan pernah basi di dunia), yakni Assompulolongeng na Paddissengeng MadEcEng" (perhubungan sanak keluarga dan ilmu yang bermamfaat). Maka dengan ini dihaturkan uraian silsilah perhubungan para Raja-Raja Sulawesi Selatan dan Barat, dipilih pada jalur-jalur perhubungan yang luas saja, menurut maksud tema tulisan ini, dihaturkan sebagai berikut :
    I. Kerajaan Luwu
    Pada bagian awal tulisan ini telah diuraikan perihal Kerajaan Luwu yang "diakui" sebagai Kerajaan Asal seluruh kerajaan di Sulawesi Selatan. Maka dibawah ini diuraikan pula uraian silsilah keturunan para Pajung dan Opu di Luwu yang menyebar ke kerajaan lainnya.
    Telah diuraikan pada bagian terdahulu, bahwa sejak Dynasti Dewata ManurungngE telah terjadi perhubungan kawin mawin dengan pendiri kerajaan lainnya, baik di Jawa maupun di kawasan timur Indonesia pada masa kini. Maka pada bagian ini diuraikan perkawinan para Bangsawan Luwu dengan Bangsawan dari negeri-negeri lainnya pada masa syiar Islam di Sulawesi Selatan pada abad XVI, sebagai berikut :
    Pati Arase’ (La Pati Ware') DaEng Parambong (Dg. Parabbung) Sultan Muhammad Waliyu Mudharuddin Petta MatinroE ri Ware’ Pajung ri Luwu XVI (Raja Luwu pertama masuk Islam, menurut silsilah TippuluE adalah Pajung ke XIII), menikah dengan  ? KaraEngta ri Balla’ Bugisi (saudara kandung  I Mangngarangi DaEng Manrabia Sultan Alauddin Somba Gowa XIV, Raja Gowa pertama yang masuk Islam), melahirkan : 1. ? Pati Pasaung  Sultan Abdullah Mahyuddin Petta MatinroE ri MalangkE Pajung ri Luwu XVII, 2. ? Petta MatinroE ri Somba Opu, 3. ? Somba BainEa. 
     Pati Pasaung  Sultan Abdullah Mahyuddin Petta MatinroE ri MalangkE Pajung ri Luwu XVII, menikah dengan  ? We Panangngareng Petta MatinroE ri Judda , melahirkan : ? Palissubaya Sultan Ahmad Nazaruddin  Petta MatinroE ri Gowa Pajung ri Luwu XVIII.
    Palissubaya Sultan Ahmad Nazaruddin  Petta MatinroE ri Gowa Pajung ri Luwu XVIII  menikah dengan  ? Opu DaEng MassallE, melahirkan : ? Sattiaraja Petta MatinroE ri Tompotikka PAjung ri Luwu XIX.
    Sattiaraja Petta MatinroE ri Tompotikka Pajung ri Luwu XIX, menikah dengan  ? Petta To CEnrana (Bone), melahirkan : ? La Sangaji Opu Patunru Luwu.
                Sattiaraja Petta MatinroE ri Tompotikka Pajung ri Luwu XIX, menikah dengan ? We Diyo’ DaEng Massiseng Petta I Takalara  MatinroE ri LawElareng , melahirkan putera puteri, sebagai berikut  :1. La Onrong Topalaguna Pajung ri Luwu XX  menikah dengan   We PAttEkEtana (puteri La Mappajanci Sultan Ismail Datu TanEtE dengan permaisurinya : We Tenri Abang Datu MArioriwawo = adik Arung Palakka Petta MalampE’E Gemme’na) , melahirkan :  Batari Tungke’ Pajung ri Luwu XXII.
    Kemudian, ..La Onrong Topalaguna Pajung ri Luwu XX  menikah dengan   I Rukiah , melahirkan : La KasEng Tosibengngareng Petta MatinroE ri Kaluku BodoE Pajung ri Luwu XXI , menikah dengan   I Saoda Datu Pacciro, melahirkan :La Tenri Peppang DaEng Paliweng Petta MatinroE ri Sabbangparu Pajung ri Luwu XXVI  menikah dengan  ? I Wakkang Batari Toja DaEng Matana Datu Bakke’ (puteri We Tenri LElEang)
    Kemudian, ..
    La Tenri Peppang DaEng Paliweng Petta MatinroE ri Sabbangparu Pajung ri Luwu XXVI  menikah dengan  ? I Manneng DaEng Masiang (puteri ? Arung Timurung Opu PawElaiyyE ri Bola Ukiri’na, melahirkan :   ? I Tenriawaru Datu Soppeng XXIX Pajung ri Luwu XXVII.
    2. We Ummung (Tenri Ummung) Datu Larompong Petta MatinroE ri Bola Jalajja’na, menikah dengan  LA Patau’ Matanna Tikka Arung Palakka Sultan Alimuddin Idris Ranreng Tuwa Wajo Petta MatinroE ri Nagauleng Mangkau ri Bone XVI , melahirkan putera puteri, sbb : 
      * La Temmasonge’ (La Mappasosong) Sultan Abdul Razak Jalaluddin Petta MatinroE ri Mallimongeng Mangkau’ ri Bone XXII, menikah dengan  ? Sitti Aisyah (puteri Muhammad Maulana KaraEng Tumabbicara Butta Gowa), melahirkan putera puteri, sbb : 1. ? La Balloso’ Toakkotto Muhammad Ramalang Arung PonrE Petta MaddanrengngE ri Bone, 2. ? I Mida Arung Lapanning, 
    3. I Rana (We Banna) Petta Ranreng Tuwa Wajo, 4. ? We TenriollE Arung Lapanning, 5. ? I PAkkemme’ Arung Majang.
    We Batari Toja DaEng Talaga Mangkau ri Bone XVII Pajung ri Luwu XXI,
    We Patimanaware’ Arung Timurung Opu PawElaiyyE ri Bola Ukiri’na,  
    We Patimanaware’ Arung Timurung Opu PawElaiyyE ri Bola Ukiri’na, menikah dengan ? La Raunglangi Opu Patunru’ Luwu, melahirkan putera puteri, sbb : 1. ? I Manneng DaEng Masia (isteri  ? La Tenri Peppang DaEng Paliweng Petta MatinroE ri Sabbangparu Pajung ri Luwu XXVI ), 2. ? I Pawawoi Opu DaEng Matajang (isteri La Tadda Opu MatinroE ri LEmpa), 3. ? Opu BoE,
    Opu TolEmbaE menikah dengan ? Ana'na Pabbicara Bittua
    La SallE Opu Daeng Panai’ menikah dengan  ? I BessE Opu DaEng Tarima, melahirkan : 1. ? Opu MpElaiyangngi Kannana (suami ? Opu BoE), 2. ? Opu DaEng Talala (suami ? Maddika Sangalla).
    Kembali keawal, yakni pernikahan lain ? Sattiaraja,
    Sattiaraja Petta MatinroE ri Tompotikka Pajung ri Luwu XIX, menikah dengan ? We Diyo’ DaEng Massiseng Petta I Takalara  MatinroE ri LawElareng , melahirkan :  ? La Sangaji Opu Patunru Luwu
    La Sangaji Opu Patunru Luwu menikah dengan   ? I Mammu DaEng TalEna, melahirkan  ? La Rumpang Megga TosappEilE Opu Cenning Luwu.
    La Rumpang Megga TosappEilE Opu Cenning Luwu   menikah dengan    ? BAtari Tungke’ Pajung ri Luwu XXII (puteri ? La Onrong Topalaguna Pajung ri Luwu XX  ), melahirkan : 
    La Oddangriu Datu TanEtE Datu SoppEng XXIII menikah dengan  ? I Tungke’ Puang DaEng, melahirkan : ? I Sabong,
    We Tenri LElEang Petta MatinroE ri SorEang PAjung ri Luwu XXIII/XXV menikah dengan ? La MAppasiling (La Mappaselli) Datu Pattojo Petta MatinroE ri Duninna, melahirkan :  
    La Mappajanci Datu Soppeng XXVII,
    We Tenriabang DaEng Baji DatuE Watu Datu Pattojo Petta MatinroE ri PangkajEnE.
    Kemudian We Tenri LElEang menikah lagi, :
    We Tenri LElEang Petta MatinroE ri SorEang PAjung ri Luwu XXIII/XXV menikah dengan ? La Mallarangeng Datu Lompulle’ Datu Marioriwawo, melahirkan : 
    La Tenrisessu Arung Pancana Opu Cenning Luwu 
    I Wakkang Batari Toja DaEng Matana Datu Bakke’,
    La Maggalatung Tokali Datu Lompulle’,
    I Tenripada DaEng MalEleng,
    I Patimang Dennyarasi MatinroE,
    I Panangngareng Datu Marioriwawo, 
    Uraian ini kemudian dilanjutkan pada generasi berikutnya, sbb :
    I Pawawoi Opu DaEng Matajang(puteri ? I Patimana WarE' Arung Timurung Opu PawElaiyyE ri Bola Ukiri’na,  dengan ? La Raunglangi Opu Patunru’ Luwu) menikah dengan ? La Tadda Opu MatinroE ri LEmpa, melahirkan :  ?  We Kabo Opu DaEng Nipati (isteri La Makkasau Arung KEra Dulung Pitumpanua bin La Temmasonge’ "La Mappasossong" Sultan Abdul Razak Jalaluddin Petta MatinroE ri Mallimongeng Mangkau’ ri Bone XXII dengan Sitti Habibah)
    Opu BoE (puteri ? I Patimana Ware' Arung Timurung Opu PawElaiyyE ri Bola Ukiri’na, dengan ? La Raunglangi Opu Patunru’ Luwu)  menikah dengan ? Opu MpElaiyangngi Kannana (putera La SallE Opu DaEng Panai), melahirkan :  ?  Opu Indo’na Ako
    Opu DaEng Talala (puteri ? La SallE Opu Daeng Panai’ dengan  ? I BessE Opu DaEng Tarima) menikah dengan ? Maddika Sangalla’, melahirkan :  ? La Konta Opu DaEng Mamangung (Suami Opu MatinroE ri BonE LEmo)
    Kemudian pula, We Tenriabang DaEng Baji DatuE Watu Datu PAttojo Petta MatinroE ri PangkajEnE (puteri ? We Tenri LElEang Petta MatinroE ri SorEang PAjung ri Luwu XXIII/XXV dengan ? La Mappasiling "La Mappaselli" Datu Pattojo Petta MatinroE ri Duninna)  menikah dengan ? La Kasi DaEng Majarungi Petta PonggawaE ri Bone (putera La Temmasonge' Arumpone MatinroE ri Mallimongeng), melahirkan :  ? La Banrulla Kemudian ..We Tenriabang DaEng Baji DatuE Watu Datu PAttojo Petta MatinroE ri PangkajEnE menikah dengan ? La Pallawagau’ Arung Maiwa Datu Pammana Petta Pilla ri Wajo, melahirkan : 1. ? We Tenri Balobo DaEng riyasE Datu Pammana, 2. ? I Mappanyiwi Datu Pammana, 2. ? I Sompa DaEng Sinring DAtu Pammana, 3. ? I BubE KaraEng PambinEang, 4. ? La Tenri Dolong To LEbba’E Datu PAmmana
    La Mappajanci Datu Soppeng XXVII (putera ? We Tenri LElEang Petta MatinroE ri SorEang Pajung ri Luwu XXIII/XXV dengan ? La Mappasiling "La Mappaselli" Datu Pattojo Petta MatinroE ri Duninna) menikah dengan ? I Sabong (puteri La Oddangriu Datu TanEtE Datu SoppengXXIII), melahirkan : ? We MEnengratu Arung Lipukasi
    Kemudian ..La Mappajanci Datu Soppeng XXVII menikah dengan ? We TenriollE Arung Lapanning  , melahirkan putera puteri, sbb : We Tenri Ampareng Datu Lapajung Datu Soppeng XXX (isteri La PabEangi    Datu Ganra Arung BElawa), 
    La MappapolEonro Sultan Nuhung Petta MatinroE ri Amala’na Datu Soppeng XXVIII (suami ? I Tenriawaru Datu Soppeng XXIX Pajung ri Luwu XXVII binti La Tenri Peppang DaEng Paliweng Petta MatinroE ri Sabbangparu Pajung ri Luwu XXVI).
    La Tenrisessu Arung Pancana Opu Cenning Luwu (putera  ? We Tenri LElEang Petta MatinroE ri SorEang Pajung ri Luwu XXIII/XXV dengan ? La Mallarangeng Datu Lompulle’ Datu Marioriwawo) menikah dengan ? We Tenrilawa BessE PEampo (puteri La Passaung Arung MEngE dengan We Tenri LEkke Arung Sajoanging), melahirkan : ? La Makkarakalangi Baso Tancung Datu Marioriawa (suami I Dulu Datu Mario ri Attangsalo)
    Kemudian ..
    La Tenrisessu Arung Pancana Opu Cenning Luwu menikah dengan ? I Pada Punna BolaE Petta ri Silaja, melahirkan : ? Asia Datu Lompulle’ (isteri La Mappaware’ Datu Lamuru putera ? I Panangngareng Datu Marioriwawo dengan ? La Sunra Datu Lamuru)
    La MappapolEonro Sultan Nuhung Petta MatinroE ri Amala’na Datu Soppeng XXVIII (Putera ? La Mappajanci Datu Soppeng XXVII dengan ? We TenriollE Arung Lapanning)  menikah dengan ? I Tenriawaru Datu Soppeng XXIX Pajung ri Luwu XXVII binti La Tenri Peppang DaEng Paliweng Petta MatinroE ri Sabbangparu Pajung ri Luwu XXVI, melahirkan putera puteri, sbb : 
    La Tenri Oddang Pajung ri Luwu XXVIII (suami We Habibah Opu Daeng Talebbi),melahirkan:  La JEmmabaruE Pajung ri Luwu XXIX (suami Opu DaEng PAnangngareng), melahirkan :  I Kambo (We KAbbe) Opu DaEng ri Sompa Pajung ri Luwu XXXII (isteri La Tenri LEkke’ Opu Cenning Luwu), melahirkan : Andi JEmma Petta MatinroE ri Kemerdekaanna Pajung ri Luwu XXXIII (suami Andi Tenripadang Opu Datu Luwu binti Andi Mappanyukki Sultan Ibrahim Datu Suppa Petta MatinroE ri Gowa MAngkau ri Bone XXXII/XXXIV), melahirkan : Andi JEmma BaruE.
    La Tenri Sessu’ Arung Galung (suami  I WEwanglangi), melahirkan : La Mattarima
    La Sumange’rukka Arung BEru-BEru (suami  Ane’ Banna Opu Indo’na I Raju), melahirkan :    I Mappa’ DaEng Tasa’na
    I Pancaitana Arung Akkampeng (isteri La Rumpangmegga Datu Lamuru bin La Mappaware’ Datu Lamuru dengan Asia Datu Lompulle), melahirkan : I Panangngareng Datu Lompulle’ (isteri La Patongai Datu Pattiro), melahirkan : Laonrong Datu Pattiro Datu Soppeng XXXII (suami  I Baccicu Datu Ganra Arung BElawa), melahirkan : I Soji  Arung BElawa Datu Madello (isteri La TEngko Petta Manciji’E ri Wajo bin La Tune’ Sangiang Arung BEttEngpola Petta MatinroE ri Tancung), melahirkan : Andi Patongai Datu Doping Arung BElawa.
    La Guttu Patalo Datu Mari-Mari (suami  I MaurantE Petta Ipao)
    La Saliu Opu Sanggaria (suami  Arung Lita)
    We Singara’ DaEng MAtana (isteri La WEwang Opu MatinroE ri Baruganna bin La Makkasau Arung KEra Dulung Pitumpanua dengan We Kabo’ Opu DaEng Nipati)
    We Hamidah Pajung ri Luwu XXX
    La PAmadenglettE Datu Watu Opu Cenning Luwu (suami  I Pada DaEng Makanang bin La Makkasau Arung KEra Dulung Pitumpanua dengan We Kabo’ Opu DaEng Nipati )
    Mencermati uraian silsilah diatas, dapatlah dilihat bahwa Andi JEmma  Pajung ri Luwu XXXIII yang merupakan Raja Luwu terakhir, sesungguhnya memiliki “darah campuran” Gowa, Bone, Wajo, Soppeng, Sangalla, Barru, serta menjalin hubungan kekerabatan dengan semua Raja-Raja se-Sulawesi Selatan dan Barat. Maka pernyataan seorang kerabat kami yang "merasa" sebagai "Orang Luwu Asli" beberapa tahun yang lalu, bahwa : "..tahta Pajung Luwu PANTANG dan TIDAK PERNAH diduduki oleh seorang bangsawan yang tidak berdarah LUWU MURNI !", kini terbukti sebagai kekhilafan yang tidak perlu adanya.
    Panguriseng  sebagaimana  diuraikan  diatas  dikutip dari Lontara Abbatirengna Ana' ArungngE ri Soppeng dari "parEEna" (Bab) : Abbatirengna Ana' ArungngE ri Luwu yang dikutipnya pula dari himpunan silsilah Paduka H. Andi Wana Datu Soppeng XXXVI. Pada lontara silsilah ini didapati "perbedaan" dengan Lontara Silsilah lainnya yang menyangkut perihal Raja-Raja Luwu, yakni : ? I Kambo (We KAbbe) Opu DaEng ri Sompa Pajung ri Luwu XXXII (isteri La Tenri LEkke’ Opu Cenning Luwu) yang pada Lontara lainnya disebutkan sebagai lelaki, diantaranya pada salinan Almarhum Paduka Opu TosinilElE. Kemudian pada bagian lainnya, didapati pula perbedaan versi era jabatan Pajung yang pada hemat penulis tidaklah mengurangi otentitas dan prinsif-prinsif referensinya.
    Mengingat blog kita bersama yang bertitel "Putera Belawa" ini, maka penulis dapat menyatakan bahwa para turunan bangsawan di Belawa pada saat ini dapat pula dikatakan sebagai "Orang Luwu". Salah seorang tokoh Belawa pada abad XVIII yang keturunannya adalah hampir segenap turunan bangsawan di Belawa pada masa ini, adalah : La Tamang Petta Palla'E adalah sesungguhnya "Wija Luwu" pula, sebagaimana diuraikan, sbb :
    We Tenri LElEang Petta MatinroE ri SorEang PAjung ri Luwu XXIII/XXV menikah dengan ? La MAppasiling (La Mappaselli) Datu Pattojo Petta MatinroE ri Duninna, melahirkan :  ? We Tenriabang DaEng Baji DatuE Watu Datu Pattojo Petta MatinroE ri PangkajEnE.
    We Tenriabang DaEng Baji DatuE Watu Datu Pattojo MatinroE ri PangkajEnE menikah dengan ? La Pallawagau’ Arung Maiwa Datu Pammana Petta Pilla ri Wajo, melahirkan : ? We Tenri Balobo DaEng riyasE Datu Pammana,  
     We Tenri Balobo DaEng ri YasE Datu Pammana  menikah dengan  ? La Sappo Petta Ogi Datu Palireng Arung Belawa MatinroE ri CempaE, melahirkan :  ? La Tamang Petta Palla'E.
    La Tamang Petta Palla'E  menikah dengan   ? I LEkke' (puteri DaEng Parebba Petta Bulu'bangi), melahirkan : 1. ? La Pamessangi Baso' Parepare,  2. ? La PallEmpa DaEng Pawawa Petta MatinroE ri PittuE.
    La Pamessangi Baso' Parepare menikah dengan   ? I RubEng, melahirkan : 1. ? La Tiling DaEng Maggading SullEwatang BElawa Orai', 2. La Mantu Petta Palla'E.
    La Tiling DaEng Maggading SullEwatang BElawa Orai' menikah dengan   ? I Mannungke' (puteri Arung Data), melahirkan : ? La Dai Puenna Mattiroang.
    Perhubungan Belawa dengan Luwu sesungguhnya sangat erat, mengingat ? La Mappasiling (La Mappaselli) Datu Pattojo Petta MatinroE ri Duninna (suami We Tenri LElEang Petta MatinroE ri SorEang PAjung ri Luwu XXIII/XXV) dimakamkan pula di "Jara' LompoE" di TippuluE, Belawa.
    Pada hampir semua Lontara Panguriseng yang penulis baca, baik Silsilah Ajappareng (SidEnrEng, Rappang, Suppa, Alitta, Sawitto dan Parepare), maupun Soppeng, Pammana, TanEtE, Pancana, Berru, MandallE', SEgEri, PangkajEnE (kepulauan) hingga Gowa dan Bone, maka tokoh ? We Tenri LElEang Petta MatinroE ri SorEang Pajung ri Luwu XXIII/XXV adalah Tokoh Sentral didalamnya. Bahkan lebih jauh pula, jika merunut ke kitab Tuhfat an Nafis, karya Pahlawan Nasional Pujangga Raja Ali Haji yang memuat perihal sejarah dan silsilah para "Opu Lima" juga mengakar dari nazab - We Tenri LElEang, diuraikan dengan penyesuaian Lontara panguruseng Soppeng, sbb :
    We Tenri LElEang Petta MatinroE ri SorEang PAjung ri Luwu XXIII/XXV menikah dengan ? La Mallarangeng Datu Lompulle’ Datu Marioriwawo, melahirkan :  1. ? La Tenrisessu Arung Pancana Opu Cenning Luwu ,  2. ? I Wakkang Batari Toja DaEng Matana Datu Bakke’,  3. ? La Maggalatung Tokali Datu Lompulle’, 4. ? I Tenripada DaEng MalEleng, 5. ? I Patimang Dennyarasi MatinroE, 6. ? I Panangngareng Datu Marioriwawo,7. ? La Maddusila Toappasawe’ Datu TanEtE La Maddusila Toappasawe’ Datu TanEtE (Lamdusalat : Tuhfat An Nafis) menikah dengan ? I SaEnong Datu Citta (puteri La Temmasonge’ Sultan Abdul Razak Jalaluddin Petta MatinroE ri Mallimongeng Mangkau’ ri Bone XXII dengan Sitti Habibah), melahirkan putera puteri, sbb:Opu Tenriborong DaEng ri LEkke’ (Upu Tendri Burang Dahing Rilaga : Tuhfat An Nafis), menikah dengan   ? …………….. , melahirkan putera puteri, sbb : Opu DaEng Parani (Upu Dahing Parni ; Tuhfat An Nafis) menikah dengan ? Ana’na Nakoda Alang (Kari Abdul Malik, seorang Saudagar Wajo yang menjadi pemuka masyarakat di Pulau Siantang, Kalimantan Timur), , melahirkan putera puteri, sbb : 1. ? Opu DaEng Kamboja “Yang Dipertuan Muda Riau III” (1746 – 1777), 2. ? Opu DaEng Khatijah (Permaisuri Raja Alam, Kerajaan Siak Sri Inderapura). Opu DaEng Parani  kemudian menikahi pula Puteri Raja Selangor  dan Adik  Raja Kedah yang menurunkan para Sultan Selangor dan Sultan Kedah hinggah sekarang. Opu DaEng MarEwa (Upu Dahing Marewah : Tuhfat An Nafis) Pangeran Kelana Jaya Putera “Yang Dipertuan Muda Riau I” (1721 – 1729). Opu DaEng Cella’ (Upu Dahing Celak : Tuhfat An Nafis) Sultan Alauddin Syah “Yang Dipertuan Muda Riau II, Johor dan Pahang dengan segala daerah taklukannya (1729 – 1746) menikah dengan ? …………………………………….. , melahirkan putera puteri, sbb : Raja Aji Marhum As Syahid fi Sabilillah Teluk Ketapang “Yang Dipertuan Muda Riau IV” (1777 - 1784)      menikah dengan                 ? …………………….. , melahirkan :  ? Angku Raja Ahmad Al Haj menikah dengan ? ……………………..  melahirkan :  ? Raja Ali Al Haji (Bapak Bahasa Indonesia dan penulis Tuhfat An Nafis)Raja Lumun ”Sultan Salehuddin” Raja Selangor I (naik tahta pada tahun 1743)      menikah dengan ? ……. , melahirkan : Sultan Ibrahim Raja Selangor II menikah dengan ? ……..  melahirkan :  ? Sultan Muhammad Raja Selangor III. Opu DaEng Manambung (Upu Dahing Menambung: Tuhfat An Nafis ) Pangeran Emas Surya Negara Sultan Mempawah (Kalimantan Barat).Opu DaEng KamasE (Upu Dahing Kamasi : Tuhfat An Nafis ) Pangeran Mangkubumi Raja Sambas (Kalimantan Timur ?).
    Sitti Halijah Arung Pao menikah dengan  ? Toappasawe’ Arung Berru, melahirkan : ? La Sumange’rukka Topatarai menikah dengan  ? I BaEgong Arung MacEgE (puteri Toappatunru Petta MatinroE ri Lalengbata Mangkau’ Bone XXIII dengan Arung Kaju),  melahirkan : 1.? Singkerru’rukka Arung Palakka Mangkau’ ri Bone XXIX, 2. We Tenripada Arung Berru (isteri I Malingkaan Somba Gowa XXXIII)
    I Cudai Arung Berru
    I Buba Datu Citta
    I Cammi
    La Patau Datu TanEtE menikah dengan ? I Pacu Petta MabbolasadaE, melahirkan : ? La CengngE menikah dengan ? I  Dalatikka Petta Massaolebbi'E, melahirkan : 1. ? Intang Arung Pao-Pao, 2. ? La SappEilE Datu TEmpE, 3. ? I  Dalatongeng Datu TempE.  I  Dalatongeng Datu TEmpE  menikah dengan  ? La Mappanyompa Arung Ujung Petta        Ranreng Tuwa Wajo, melahirkan : ? I Ninnong Datu TEmpE Petta Ranreng Tuwa Wajo menikah dengan  ? I Malingkaan KaraEng ri Bura'nE, , melahirkan : 1. ? I Munawwarah Datu TEmpE (isteri ? La Sumange'rukka KaraEng BEroanging), 2. ? Baharuddin Datu TEmpE, 3. ? Muhdaria KaraEng Sinrijala (KaraEng Balla'sari), 4. ? Hasan Mahmud KaraEng BontorannuLa Tomanggung Petta Addiangeng 
    La TowaggangmettE Datu Citta menikah dengan   ? I Hindong, melahirkan : ? La Mattalatta Arung Bila
    MaggamoE
    I Tenri Jai
    I BessE
    Uraian perihal putera puteri ? La Maddusila Toappasawe’ Datu TanEtE (Lamdusalat : Tuhfat An Nafis) diatas, pada akhirnya menunjukkan pada kita bahwa ? Opu DaEng Parani (Upu Dahing Parni ; Tuhfat An Nafis) sesungguhnya "Massappo Siseng" (Bersepupu sekali / saudara misan) dengan para Raja-Raja Besar Sulawesi Selatan pada masanya, antara lain :
    2.  La CengngE,
    3.  La Mattalatta Arung Bila,
    Hingga akhirnya penulis kini tidak heran lagi ketika bertemu dengan junjungan kami Almarhumah Petta Balla'sari di Surabaya pada tahun 1988, dimana Baginda saat itu sedang dalam perjalanan pulang dari muhibahnya ke Johor, Malaysia atas undangan kerabatnya, yakni : Sultan Johor.
    Kemudian salahseorang putera ? La MappapolEonro Sultan Nuhung Petta MatinroE ri Amala’na Datu Soppeng XXVIII dengan ? I Tenriawaru Datu Soppeng XXIX Pajung ri Luwu XXVII binti La Tenri Peppang DaEng Paliweng Petta MatinroE ri Sabbangparu Pajung ri Luwu XXVI, yakni : ? La PamadenglettE Datu Watu Opu Cenning Luwu, telah mengukuhkan namanya sebagai tokoh pusat yang menurunkan Raja-Raja terkemuka di Wajo, Soppeng, Sawitto, Pammana, Pamboang (Mandar, Sulawesi Barat), Belawa dan lainnya, sebagaimana diuraikan dibawah ini : 
    ? La PAmadenglettE Datu Watu Opu Cenning Luwu menikah dengan   ? I Tenri Arung Singkang (Wajo), melahirkan putera puteri, sbb : 
    1.   La Paremma' Datu La Pajung
    2.   We Gau
    3.   I MundEng
    4.   La TalEmpeng Arung Singkang Datu Soppeng XXXIII menikah dengan ? I Tahira Petta Patola Wajo, melahirkan putera puteri, sbb :
    -     I Baccicu Datu Ganra Arung Belawa,
    -     I Mappanyiwi Datu Watu Petta Patola Wajo
       I Mappanyiwi Datu Watu Petta Patola Wajo menikah dengan ? La Walinono Datu Botto, melahirkan putera puteri, sbb :
    *    ? La OddangpEro Datu Larompong Arung Matoa Wajo XLIV menikah dengan ? I Tenri Esa', melahirkan : ? La Sumange'rukka Petta Patola Wajo menikah dengan ? I Panangngareng Datu Pattojo, melahirkan : ? I Pancaitana Datu Pattojo (isteri Muhammad Arsad Datu Marioriwawo bin La Mangkona Datu Marioriwawo Arung Matoa Wajo XLV)
    ? La OddangpEro Datu Larompong Arung Matoa Wajo XLIV menikah dengan ? I Nomba KaraEng Balla’kaca, melahirkan putera puteri, sbb :
    ·    ? La Maddukelleng Petta Cakkuridi ri Wajo (suami I Tenri SanrE  Addatuang Sawitto XIV)
    ·   ? Batari Toja Arung Gilireng menikah dengan  ?  La Mappanyompa Petta MaddanrengngE ri Pammana melahirkan putera puteri, sbb :
    ~ ?  Pallawarukka Petta Pilla’E ri Wajo
    ~ ?  Tenriampareng Datu Pammana
    *     ? La Wawo Datu Botto menikah dengan ?We Tenrimario Datu Lamuru, melahirkan :  ? La Mangkona Datu Marioriwawo Arung Matoa Wajo XLV ; (Arung Matoa Wajo Terakhir) menikah dengan ? Addiluwu Datu Watu, melahirkan putera puteri, sbb:
    -     Muhammad Arsad Datu Marioriwawo
    -     Tenri AbEng (isteri La PatEttEngi Addatuang Lolo Sidenreng)
    -     Tenri Angka (isteri Tonralipu Maraddia Pamboang, Mandar)
    -     Tenri Pakkemme’ (isteri Abu BaEdah Arung Ganra)
    -     I Baccicu Datu Lamuru (isteri Sulolipu Petta Tomarilaleng Bone)
    *    I Tenriwatu Sultanah Zaenab Datu Soppeng XXXV menikah dengan ? La PabEangi Arung Ganra SullE Datu Soppeng (putera La Onrong Datu Pattiro Datu Soppeng XXXII dengan I Baccicu Datu Ganra Arung Belawa), melahirkan putera puteri, sbb: 
    ·         ? La Wana Datu Ganra Datu Soppeng XXXVI (Datu Soppeng Terakhir)
    ·         ? La JEmma Datu Lapajung,
    ·         ? I Tahira Petta Patola Wajo,
    ·         ? Addiluwu DatuE Watu.
    Kemudian putera ? La TalEmpeng Arung Singkang Datu Soppeng XXXIII menikah dengan ? I Tahira Petta Patola Wajo yang terakhir adalah :
    La PamadenglettE Datu Watu Opu Cenning Luwu  menikah dengan   ? I Pada DaEng Makanang binti La Makkasau Arung KEra Dulung Pitumpanua dengan We Kabo’ Opu DaEng Nipati, melahirkan: ? Iskandar Datu Larompong Pajung ri Luwu XXIX menikah dengan   ? We SabbE Tolebbi, melahirkan: ? I RawE Opu DaENg Talebbi menikah dengan   ? La OddangpEro Datu Larompong Arung Matoa Wajo XLIV melahirkan:  
    1. Iskandar Datu Botto
    2. La Mappanyompa Opu Totadampali Tomarilaleng Luwu
    Sekiranya uraian diatas dikembalikan lagi ke ? We Tenriabang DaEng Baji DatuE Watu Datu PAttojo Petta MatinroE ri PangkajEnE menikah dengan ? La Pallawagau’ Arung Maiwa Datu Pammana Petta Pilla ri Wajo, melahirkan : 1. ? We Tenri Balobo DaEng riyasE Datu Pammana, 2. ? I Mappanyiwi Datu Pammana, 2. ? I Sompa DaEng Sinring Datu Pammana, 3. ? I BubE KaraEng PambinEang, 4. ? La Tenri Dolong To LEbba’E Datu PAmmana, maka melalui garis I Sompa DaEng Sinring DAtu Pammana  yang menikah dengan La Settiang Opu Maddika Bua akan didapati jika mereka akan menurunkan para Datu Pammana, Addatuang SidEnrEng, Arung Rappeng, KaraEng BEroanging, Arung Berru, Datu Suppa, Addatuang Sawitto, Arung Matoa Wajo, Mangkau ri Bone, Arung MallusEtasi hingga Sombayya ri Gowa. Namun mengingat jika  bagaimanapun uraian kita bersama ini akan dilanjutkan melalui perhubungan silsilah pada kerajaan-kerajaan lainnya, maka nantinya akan dibahas pada bagian "Kerajaan SidEnrEng".
    II. Kerajaan Bone
    Sejak didirikannya sebagai sebuah Kerajaan dalam tahun 1326, dimana Raja pertamanya yaitu : La MammatasilompoE ManurungngE ri Matajang, maka nantilah pada generasi ke-5 setelah To ManurungngE ri Matajang barulah Kerajaan ini mencatatkan kiprahnya dalam perhubungannya dengan kerajaan-kerajaan lainnya di Sulawesi Selatan dan Barat. Generasi ke-5 itu adalah La Tenri Sukki MappajungngE Mangkau ri Bone V. Baginda dikenal sebagai raja yang giat melakukan peperangan dan penaklukan untuk memperluas wilayah Tana Bone. Pada masanyalah, pasukan Luwu yang dipimpin sendiri oleh La DEwaraja TosEngereng Datu KElali’ Pajung ri Luwu dapat dipukul mundur di CEnrana dan bahkan mampu merebut salahsatu payung kebesaran Tanah Luwu dan Bendera merah angkatan bersenjata Kerajaan Luwu. Kemenangan itulah yang menjadikan pujian bagi baginda La Tenri Sukki dengan gelar “MappajungngE” karena telah merebut payung kebesaran Luwu, walaupun pada akhirnya Baginda Payung Luwu memberikannya sebagai "cinderamata". Maka peperangan yang terkenal itu menghasilkan sebuah perjanjian terkenal pula, yakni : Ulu Ada Polo MalElaE ri Luwu yang menandai penyerahan negeri Cenrana dalam wilayah kekuasaan Tanah Bone.
    Setelah kemenangan gemilang itu, Baginda MappajungngE meneruskan peperangannya ke negeri Mampu. Maka dalam waktu relative singkat, negeri itu menyatakan takluk dan dijadikan negeri Palili Tanah Bone. Penghargaan rakyat Bone terhadap raja yang hebat ini menjadikannya sebagai patron raja-raja setelahnya. Setiap Raja Bone yang dinobatkan setelah wafatnya baginda, mestilah dari garis keturunan “MappajungngE”, sebagamana diuraikan sebagai berikut :
    La Tenrisukki MappajungngE Mangkau Bone V (putera ? We BarigauMakkaleppiE MallajangngE ri Cina Mangkau Bone IV  dengan ? La Tenribali Arung Kaju) menikah dengan ? We Tenrisokke, melahirkan putera puteri, sbb:
    1.       ? La Ulio Botte'E Petta MatinroE ri Itterrung Mangkau Bone VI,
    2.       ? We Tenrigella (isteri Opu Daleng ri Kung),
    3.       ? DenradatuE
    La Ulio Botte'E Petta MatinroE ri Itterrung Mangkau Bone VI menikah dengan ? We TenriwEwang Arung Pattiro (Puteri ? We Sumange DatenriwEwang, saudara La Tenrisukki MappajungngE), melahirkan putera puteri, sbb:
    1. La TenrirawE BongkangngE Petta MatinroE ri Gucinna Mangkau Bone VII, menikah dengan ? We Tenripakkua Arung Timurung
    2. La Ica Petta MatinroE ri AddEnEnna Mangkau Bone VIII, menikah dengan ? We Tenripakkua Arung Timurung, melahirkan putera puteri, sbb:
    We Tenrisoloreng MakkkalaruE Datu Pattiro menikah dengan ? La Pancai' Topatangkai Arung Suli, melahirkan putera puteri, sbb:
    -   La Maddaremmeng Sultan Muhammad Saleh Petta MatinroE ri Bukaka Mangkau Bone XIII,
    -   La Tenroaji Tosenrima Petta MatinroE ri Siang Mangkau Bone XIV.
    -  La Tenripale' ToakkappEang Sultan Abdullah Petta MatinroE ri Tallo Mangkau  Bone XII menikah dengan ? We PalettEi KanuangngE (puteri ? We Tenrituppu Maddusila Petta MatinroE ri Sidenreng Mangkau Bone X dengan ? Towaddusila TorilEwoE arung Sijelling).
    3. We Tenripauwwang menikah dengan ? La Makkarodda Totenribali MabbEluwa'E Datu Marioriwawo (putera ? La WaniagaTomakerra Arung Bila dengan ? We Bolosugi) , melahirkan: ? La TolEmpeng Datu Pattojo.
    La TolEmpeng Datu Pattojo menikah dengan ? I TenrilEkke' Baji' LEmbaE Datu Marioriwawo, melahirkan putera puteri, sbb:
    - I Pasang DatuE Watu menikah dengan ? La Pottobunne' KaraEng Tana Tengnga Datu Lompulle', melahirkan: ? La Page' Arung Lompengeng
    - I Baru Dasajo Datu Pattojo menikah dengan ? La Tenribali Datu Soppeng XV (putera ? La Maddussila Towakka Arung mampu dengan ? We Tenrigella Datu Lapajung) melahirkan putera puteri, sbb: 1. ? We Adeng PatipuengngE Datu Watu Datu Soppeng XVI, 2. ? La TenrisEnge' ToEsa' Datu Soppeng XVII.
    4. I LEppeng menikah dengan ? La Saliu Arung Palakka (putera ? La GomEng dengan  ? I MangampE Walida MaddanrengngE ri Palakka, puteri La Tenrigerra' Datenripala, saudara La Tenrisukki MappajungngE) , melahirkan: ? La Tenriruwa Sultan Adam Arung Palakka Petta MatinroE ri BantaEng Mankau Bone XI.
    La Tenriruwa Sultan Adam Arung Palakka Petta MatinroE ri BantaEng Mankau Bone XI menikah dengan ? We TenrilEkke I Baji LEmbaE Datu Marioriwawo, melahirkan: ? We Tenrisui Datu Marioriwawo.
    We Tenrisui Datu Marioriwawo menikah dengan ? La Pottobunne' KaraEng Tana Tengnga Datu Lompulle', melahirkan putera puteri, sbb:
    La Tenritatta DaEng SErang ToErung Petta MalampE'E Gemme'na Arung Palakka Tounru Petta TorisompaE Sultan Sa'aduddin Datu Mario ri Wawo, Mangkau Bone XV Datu Tungke'na Tana Ugi
    We TenriEsa' DaEng Upi Mappolo BombangngE  menikah dengan ? La Pakkokoi Petta UgiArung Timurung MaddanrengngE ri Bone (putera -  ? La Maddaremmeng Sultan Muhammad Saleh Petta MatinroE ri Bukaka Mangkau Bone XIII dengan  ? We Massengrima Arumpogi), melahirkan: ? La Patau Matanna Tikka MalaE Sangra Sultan Alimuddin Idris Arung Palakka Petta Ranreng Tuwa Wajo MatinroE ri Nagauleng Mangkau Bone XVI.
    We Tenriabang DaEng Baji Datu Marioriwawo menikah dengan ? La Mappajanci Sultan Ismail Datu Tanete,  melahirkan: ? We PattEkEtana
    We PattEkEtana menikah dengan   ? La Onrong Topalaguna Pajung ri Luwu XX , melahirkan : ? Batari Tungke’ Pajung ri Luwu XXII.
    We Kacumpureng Daumpi Datu Mari-Mari  menikah dengan   ? Todani Datu Bakke Datu Citta Arung LEtta' Addatuang SidEnrEng IX Datu Ajatappareng (putera ? We Tasi Arung Alitta  dengan   ? Topabilla Datu Citta).
    La Onggo' La Tenrigerra
    Setelah Perang Makassar berakhir yang ditandai dengan penandatanganan "Perjanjian Bongaya" pada tanggal 21 Nopember 1667, Kerajaan Bone mmencapai puncak kejayaannya sejak didirikannya. Kemenangan Petta TorisompaE (? La Tenritatta DaEng SErang ToErung Petta MalampE'E Gemme'na Arung Palakka Tounru Petta TorisompaE Sultan Sa'aduddin Datu Mario ri Wawo, Mangkau Bone XV Datu Tungke'na Tana Ugi ) beserta sekutunya terhadap Kerajaan Gowa beserta sekutunya pula, merupakan babak baru dalam catatan sejarah Sulawesi Selatan.
    Kemenangan Bone dan sekutunya kemudian semakin kukuh setelah memenangkan perang dengan Kerajaan Wajo yang ditandai pula dengan penandatanganan kalah perang oleh La Palili' Tomalu' Puanna La Cella' Arung Matoa Wajo XXIV (1670-1679). Dua tahun kemudian, ? La Maddaremmeng Sultan Muhammad Saleh Petta MatinroE ri Bukaka Mangkau Bone XIII  wafat dan digantikan oleh La Tenritatta DaEng SErang ToErung Petta MalampE'E Gemme'na Arung Palakka Tounru Petta TorisompaE Sultan Sa'aduddin Datu Mario ri Wawo, Mangkau Bone XV Datu Tungke'na Tana Ugi yang juga digelari oleh Pemerintah Hindia Belanda sebagai : De Konijn der Bogies (Kaisar Bugis). 
    Baginda Petta TorisompaE tidak memiliki putera kandung untuk mewarisi tahtanya. Konon baginda pernah memiliki putera, namun gugur dalam Perang Makassar yang dahsyat itu. Selama hidupnya yang melegenda, Petta Torisompa memiliki banyak isteri, namun yang sering tercatat dalam Lontara adalah :  I Mangkawani DaEng TalElE (puteri KaraEng Pattinngalloan Tumabbicara Butta Gowa) dengan We Yadda Datu Watu  (puteri La Tenribali Petta MatinroE ri Datunna Datu Soppeng XV dengan We Bubungeng I Dasajo Datu Pattojo atau We Baru).
     Setahun sebelum Petta TorisompaE wafat dalam tahun 1696, baginda yang digelari Petta MatinroE ri Bontoala menobatkan kemenakannya, yakni : ? La Patau Matanna Tikka WalinonoE La Tenribali MalaE Sangra Sultan Alimuddin Idris Arung Palakka Petta Ranreng Tuwa Wajo MatinroE ri Nagauleng Mangkau Bone XVI atau yang lazim disebut saja sebagai "Matanna Tikka" (Sang Matahari).
    Sejak menyandang sebagai "Ana' Mattola" (Putera Mahkota), Matanna Tikka terlebih dahulu dipersiapkan oleh pamannya (Petta TorisompaE) untuk  mengukuhkan wilayah kekaisarannya melalui "diplomasi perkawinan". Baginda Matanna Tikka dinikahkan dengan puteri para Raja-Raja Sulawesi Selatan dan Barat pada masa itu dengan disertai perjanjian bahwa keturunan Matanna Tikka yang kelak dinobatkan menjadi raja setempat , sebagaimana diuraikan sbb :
    La Patau Matanna Tikka WalinonoE La Tenribali MalaE Sangra Sultan Alimuddin Idris Arung Palakka Petta Ranreng Tuwa Wajo MatinroE ri Nagauleng Mangkau Bone XVI Pattojo menikah dengan ? We Tenriummung Datu Larompong Petta MatinroE ri Bola Jalajja'na (puteri ? Sattiaraja Petta MatinroE ri Tompotikka Pajung ri Luwu XIX, dengan ? We Diyo’ DaEng Massiseng Petta I Takalara  MatinroE ri LawElareng), melahirkan putera puteri, sbb: 
    La Temmasonge’ (La Mappasosong) Toappawelling Sultan Abdul Razak Jalaluddin Petta MatinroE ri Mallimongeng Mangkau’ ri Bone XXII, menikah dengan  ? Sitti Aisyah (puteri Muhammad Maulana KaraEng Tumabbicara Butta Gowa), melahirkan putera puteri, sbb : 
    1. La Balloso’ Toakkotto Muhammad Ramalang Arung PonrE Petta MaddanrengngE ri Bone, 
    2. I Hamida Arung Lapanning, 
    3. I Rana (We Banna) Petta Ranreng Tuwa Wajo, 
    4. We TenriollE Arung Lapanning, 
    5. I PAkkemme’ Arung Majang.
     La Balloso’ Toakkotto Muhammad Ramalang Arung PonrE Petta MaddanrengngE ri Bone , menikah dengan  ? We Tenrigau, , melahirkan putera puteri, sbb : 1. ? I Kati Arung Palippu (isteri  ?  La SampennE' Petta Labattoa Arung Liu Cakkuridi ri Wajo), 2. ? We Halijah I PatetEi (isteri ?  La KunEng Datu Suppa VIII, Addatuang Sawitto VIII, Arung Belawa Orai' ), 3. ? We Tenripada Petta MatinroE ri Saodenra (isteri ? La Tenri Tappu Sultan Ahmad Saleh Petta  MatinroE ri Rompegading Mangkau ri Bone XXIII ) ,
      I Kati Arung Palippu menikah dengan  ?  La SampennE' Petta Labattoa Arung Liu Cakkuridi ri Wajo melahirkan putera puteri, sbb : 1. ?  La Makkaraka Petta Ugi Arung Belawa (suami ? I KambeccE Petta PatolaE Wajo) , 2. ? We Sao Arung Liu, 3. ? Petta Eccu (isteri  ?  Opu BarangmamasE), 3. ? La Olling Arung Liu Petta MaddanrengngE ri Bone.
    La Makkaraka Petta Ugi Arung Belawa , menikah dengan  ? I KambeccE Petta PatolaE Wajo melahirkan : ? I Busa Petta WaluE Arung Belawa,I Busa Petta WaluE Arung Belawa menikah dengan  ? La Tompi Wanua Arung Bettempola Arung Belawa Petta MaddanrengngE  MatinroE ri Wajo (putera ? La Sengngeng Arung BEttEmpola MatinroE ri Salawa'na dengan ? I Mappangideng Arung Macanang), melahirkan putera puteri, sbb : 1. ? La Tune' Mangkau Arung BEttEmpola Petta MatinroE ri Tancung , 2. ? La Raja Dewa Arung Belawa, 3. ? We Kalara' Arung BEttEmpola, 4. La Makkulawu Petta Ogi.La Tune' Mangkau Arung BEttEmpola Petta MatinroE ri Tancung menikah dengan  ? Sompa ri Timo MajjampaE Petta PabbatE PEnrang MatyinroE ri Cinottabi (puteri ? La Olling Arung Liu Petta MaddanrengngE ri Bone dengan  ? BessE' Daeng TallE), melahirkan putera puteri, sbb :  1. ? La Gau'Arung BEttEmpola Petta MatinroE ri Masigi'na, 2. ? La Jallo' Datu Patila, 3. ? La GomEng (La ComE'), 4. ? I Gallong Arung Liu MajjumbaE, 5. ? La Daming Petta Ogi Arung Belawa, 6. ? La KeccE' Petta Manciji ri Wajo, 7. ? La TEngko Arung Belawa Alau Petta Manciji ri Wajo, 8. ? I Hawang.La TEngko  Arung Belawa Alau Petta Manciji ri Wajo  menikah dengan  ? I Soji Arung Belawa Datu Madello (puteri ? La Onro Datu Pattiro Datu Soppeng XXXII dengan ? I Baccicu DatuE Ganra Arung Belawa), melahirkan putera puteri, sbb :
    1. I Tenrikawareng Arung Belawa MallinrungngE ri Pompanua,
    2. I Panangngareng Datu Madello menikah dengan  ? La MappangilE Addatuang Sidenreng 
    KaraEng TinggimaE (putera I ParEnrEngi KaraEng TinggimaE Datu Suppa), melahirkan putera puteri, sbb : 
    La Onro Arung Belawa, 
    I Soji KaraEng KanjEnnE' Datu Suppa. I Panangngareng Datu Madello menikah dengan  ? La Makkaraka Arung BEttEngpola, melahirkan :  I Banna Datu Lompulle'.
    La Passamula' Cella' Belawa menikah dengan  ? I Maddanaca, melahirkan : ? I Sami'
    La Patongai Datu Doping Arung Belawa (Datu Bolong).
    La TEngko  Arung Belawa Alau Petta Manciji ri Wajo  menikah dengan  ? I REwo Puang Remmaa (puteri ? La Kadu' Arung Batu), melahirkan : ? I Batari Petta Lonra.? I Batari Petta Lonra menikah dengan  ? Landeng Paddanreng Ana'banua (putera I Hawang, kakak kandung La TEngko Petta Manciji ri Wajo), melahirkan putera puteri, sbb :  1. ? Bau Emmang, 2. I Mapparimeng Petta Lonra
    We Batari Toja DaEng Talaga Petta MatinroE ri TippuluE Mangkau ri Bone XVII Pajung ri Luwu XXI,
    We Patimana Ware' Arung Timurung Datu Larompong Opu PawElaiyyE ri Bola Ukiri’na, menikah dengan ? La Raunglangi Opu Patunru’ Luwu , melahirkan putera puteri, sbb : 1. ? I Manneng DaEng Masia (isteri  ? La Tenri Peppang DaEng Paliweng Petta MatinroE ri Sabbangparu Pajung ri Luwu XXVI ), 2. ? I Pawawoi Opu DaEng Matajang (isteri La Tadda Opu MatinroE ri LEmpa), 3. ? Opu BoE,Opu TolEmbaE menikah dengan ? Ana'na Pabbicara Bittua
    La SallE Opu Daeng Panai’ menikah dengan  ? I BessE Opu DaEng Tarima, melahirkan : 1. ? Opu MpElaiyangngi Kannana (suami ? Opu BoE), 2. ? Opu DaEng Talala (suami ? Maddika Sangalla).
    Kemudian,La Patau Matanna Tikka WalinonoE La Tenribali MalaE Sangra Sultan Alimuddin Idris Arung Palakka Petta Ranreng Tuwa Wajo MatinroE ri Nagauleng Mangkau Bone XVI Pattojo menikah dengan ? I Mariama KaraEng Pattukangan (puteri ? I Mappadulung KaraEng Sanrobone Sultan Abdul Jalil Tumenanga ri Lakiung Sombayya Gowa XIX , dengan ? Petta Bau Bone KaraEng Lakiung), melahirkan putera puteri, sbb:
    La Pareppa' TosappEwaliE Sultan Ismail Petta MatinroE ri Sombaopu Sombayya Gowa XX, Mangkau ri Bone XIX, Datu Soppeng XX  menikah dengan  ? I Gumittiri (puteri ?  I Mallawakkang DaEng Mattingri KaraEng Kanjilo Sultan Abdul Kadir KaraEng Tallo X Sombayya Gowa XVII dengan ? KaraEng Parang-Parang) , melahirkan :  ? La Massellomo Ponggawa LoE ri Luwu (suami ? I Cado Arung Tajong)
    La Massellomo Ponggawa LaoE ri Luwu  menikah dengan   ? I Cado "We Gau" Arung Tajong  melahirkan :  ? La Mappapenning Petta Ponggawa Bone.
    La MappapenningToappaware' Petta Ponggawa Bone menikah dengan   ? We Hamidah Arung Timurung Arung Lapanning (puteri ? La Temmasonge’ "La Mappasosong" Sultan Abdul Razak Jalaluddin Petta MatinroE ri Mallimongeng Mangkau’ ri Bone XXII, dengan  ? Sitti Aisyah ) melahirkan putera puteri, sbb:  
    La Tenri Tappu Sultan Ahmad Saleh Petta MatinroE ri RompegadingMangkau ri Bone XXIII menikah dengan   ? We Tenripada Petta MatinroE ri Saodenra (puteri ? La Balloso' Toakkotto Arung PonrE MaddanrengngE Bone  dengan  ? We Tenrigau  ) melahirkan :  1. ? La Tenrisukki Arung Kajuara MaddanrengngE ri Bone, 2. ? I Marola Arung Pao (isteri La PattEbba Watanglipu Soppeng)
    We Tenri Alu BessE Apala Arung Apala  menikah dengan   ? La MappapolEonro Sultan Nuhung Petta MatinroE ri Amala’na Datu Soppeng XXVIII (Putera ? La Mappajanci Datu Soppeng XXVII dengan ? We TenriollE Arung Lapanning) melahirkan putera puteri, sbb: -     La Mataesso SullE Datu Soppeng menikah dengan   ? I Yaddauwan We Tenrimono Arung Salo Tungo- We Tenri Kawareng Arung Sao LEbba menikah dengan   ? La Sumange'rukka Arung TanEtE melahirkan :  1. ? La Patonagi Datu Pattiro, 2. ? La Passamula' Datu Balusu-  La Unru Datu Soppeng XXXI menikah dengan   ? I Massellimang Mabbaju NyilaE melahirkan : 1. ?   La Mansure' Baco Sidenreng Watanglipu Soppeng, 2. ? I Bonga Petta Indo ri Lampoko (isteri ? La Passamula' Datu Balusu)
    We Yabang (We Barigau ?)  menikah dengan   ? La Mappulana Petta CakkuridiE ri Wajo, melahirkan :  ? La Tokong (La Toto) Petta PallEkoreng Datu Pammana,? La Tokong (La Toto) Petta PallEkoreng Datu Pammana menikah dengan   ? We Rana " I Banna " Petta Ranreng Tuwa Wajo (puteri  ? La Temmasonge’ "La Mappasosong" Toappawelling  Sultan Abdul Razak Jalaluddin Petta MatinroE ri Mallimongeng Mangkau’ ri Bone XXII dengan  ?  We Momo Sitti Aisyah : sepupu sekali kakeknya ? : penulis) melahirkan putera puteri, sbb:
    I - Sitti Hudaiyah Petta Ranreng Tuwa Wajo  menikah dengan   ? La Tenridolo Arung Telle' melahirkan : ? Amirah Petta Ranreng Tuwa Wajo- Amirah Petta Ranreng Tuwa Wajo  menikah dengan   ? La PabEangi Petta TurubElaE (putera  - La Cella' Petta PatolaE Wajo dengan  ?  We Tungke' Petta MajjumbaE), melahirkan putera puteri, sbb: 1. ? La Pawellangi Petta PajungpEroE Datu ri Akkajeng Arung Matoa Wajo XXXIX, 2. We Panangngareng Datu Tempe.
    II - ? La Paranrengi DaEng Sijerra menikah dengan   ? I Tenriampareng, melahirkan : ? Daeng Maroa CambangngE Petta Pangulu Lompo Belawa. ? Daeng Maroa CambangngE Petta Pangulu Lompo Belawa        menikah dengan   ? I Samayya (puteri ? Petta Pabbicara Laomapadang dengan  ? I Banna ) melahirkan : ? Muhammad Tang DaEng Paliweng Petta Pangulu Barisi'na Belawa.Putera Puetta Matanna Tikka dengan I Mariama KaraEng Pattukangan berikutnya, adalah :·   ? La Panaongi Topawawoi Arung Mampu Datu Soppeng Mangkau ri Bone XX  menikah dengan  ? We Sitti Hawang Daeng Masennang melahirkan :  ?  La Page' Arung Mampu Arung Malolo ri Bone. ?  La Page' Arung Mampu Arung Malolo ri Bone menikah dengan  ? We Saloge Arung Wetteng, melahirkan putera puteri, sbb: 1. ? La Mappangara Arung SinrE Petta Tomarilaleng PawElaiyyE ri Sesso'E, 2. ? La Mappaware' Arung Tompobulu, 3. ?  We Masi Arung Wetteng.Lalu, Putera Matanna Tikka dengan KaraEng Pattukangan berikutnya, yakni :
    La Padassajati Toappaware Petta MatinroE ri BEulang Datu Soppeng XIX/XXI  Mangkau ri Bone XVIII 
    Kemudian, .
    La Patau Matanna Tikka WalinonoE La Tenribali MalaE Sangra Sultan Alimuddin Idris Arung Palakka Petta Ranreng Tuwa Wajo MatinroE ri Nagauleng Mangkau Bone XVI Pattojo menikah dengan  ?  We Baya DalabataE "To BukakaE" Datu Lamuru, melahirkan :  ?  La Tone' Datu Laisu Arung Amali Datu Soppeng XXVI.
    La Tone' Datu Laisu Arung Amali Datu Soppeng XXVI  menikah dengan  ?  Datu Marioriawa melahirkan :  ?  La Mappaiyyo.
    La Patau Matanna Tikka WalinonoE adalah terkenal sebagai Raja yang memiliki banyak isteri.  Namun dari sekian banyak itu, hanya dua diantaranya yang dianggap sebagai "Arung Makkunrai" (permaisuri), yakni : ? We Tenriummung Datu Larompong Petta MatinroE ri Bola Jalajja'na dan ? I Mariama KaraEng Pattukangan. Maka anak mereka berdualah yang dianggap sebagai "Ana' Mattola" (Putera Puteri Mahkota) pada 4 Negeri Besar Sulawesi Selatan, yaitu : Luwu. Bone Gowa dan Soppeng.
    Adalah merupakan suatu persyaratan mutlak yang ditetapkan  oleh La Patau Matanna Tikka WalinonoE ketika menjelang penobatan beliau selaku ahli waris Petta TorisompaE , bahwa :
    "Saya akan menerima kesepakatan orang banyak dari apa yang telah ditetapkan Petta TorisompaE, yaitu apabila orang banyak mengakui dan mengetahui bahwa :
    1.       Tidak akan ada lagi Mangaku di Bone kalau bukan keturunanku,
    2.       Ketahuilah pula bahwa keturunanku adalah segenap anak cucu "MappajungngE" yang tidak akan dipilih dan didudukkan oleh keturunan Lili'E. begitulah penyampaian saya kepada  sekalian orang banyak !". Maka menyahutlah sekalian orang banyak seraya berkata : "Angingko Puang kiraungkaju, riyao miri riyakkeng mutappalireng, muwawa ri perri nyameng.."  (Terjemahan Lontara Akkarungeng Bone , milik Drs. Andi Amir Sessu) Diantara sekian banyak putera puterinya yang terdiri dari 5 (lima) putera puteri Mahkota (Ana' Mattola)  dan 29 (dua puluh Sembilan) putera puteri berderajat Ana' Arung Matase'  (Pangeran dan Puteri yang dilahirkan oleh Ibu yang menajdi Ratu di negeri bawahan)  serta tak terhitung yang lainnya terdiri dari Ana' Arung ri Bolang, Ana' Arung SipuE dan Ana' CEra', maka yang kemudian paling banyak mewarisi kekuasaan Baginda Matanna Tikka serta paling banyak juga menimbulkan controversial, adalah : ? La Temmasonge’ (La Mappasosong) Toappawelling Arung Baringeng Sultan Abdul Razak Jalaluddin Petta MatinroE ri Mallimongeng Datu Soppeng XXV Mangkau’ ri Bone XXII.Baginda  MatinroE  ri  Mallimongeng  tercatat  dengan  banyak  versi  berbeda  pada banyak Lontara di Sulawesi Selatan. Lontara Akkarungeng Bone menulisnya sebagai putera Matanna Tikka dengan Arung Baringeng, sementara himpunan silsilah Latoa menyebutnya pula sebagai putera Matanna Tikka dengan We Yummung (Tenriummung) Datu Larompong. Kemudian Lontara lainnya yang ditulis di Soppeng, menulisnya pula bahwa baginda adalah bukan putera Arung Baringeng dan Datu Larompong MatinroE ri Bola Jalajja'na, melainkan dari seorang Ratu lain yang tidak mungkin bisa diungkapkan dalam tulisan ini, mengingat informasi ini terhitung sebagai "Lontara rikaciri" (Lontara yang dibungkus kain kafan) alias FORBIDDEN. Maka baginda disebut selaku : CEra'i ri mannessaE, Sengngengngi ri MallinrungngE dengan alasan yang berbeda-beda pula.
    Terlepas dari berbagai controversial tersebut, Baginda Petta MatinroE ri Mallimongeng adalah pelanjut Puetta Matanna Tikka yang paling banyak menebarkan keturunan yang kelak menjadi penguasa-penguasa besar di Sulawesi Selatan.  Bahkan jika menelusurinya, penulis juga mendapati bahwa nazab keempat kakek nenek penulis (bapak ibu dari ayahanda dan bapak ibu dari ibunda) semuanya pada akhirnya bermuara pula pada baginda MatinroE ri Mallimongeng.
    Pada suatu titik pertemuan garis antara generasi pertama  MatinroE ri Mallimongeng dari Bone dengan generasi pertama MatinroE ri SorEang (We Tenri LElEang Pajung ri Luwu XXIII/XXV) dari Luwu melahirkan para raja-Raja besar "TellumpoccoE" (Bone, Wajo Soppeng) hingga "LimaE Ajattapareng" dalam kurun permulaan abad XX, sebagaimana diuraikan dibawah ini :
    I.  La Temmasonge’ (La Mappasosong) Toappawelling Arung Baringeng Sultan Abdul Razak Jalaluddin Petta MatinroE ri Mallimongeng Datu Soppeng XXV Mangkau’ ri Bone XXII menikah dengan  ?  We Momo Sitti Aisyah (puteri Muhammad Maulana KaraEng Tumabbicara Butta Gowa), melahirkan putera puteri, sbb : 1. ? La Balloso’ Toakkotto Muhammad Ramalang Arung PonrE Petta MaddanrengngE ri Bone, 2. ? I Hamida Arung Lapanning, 3. ? I Rana (We Banna) Petta Ranreng Tuwa Wajo, 4. ? We TenriollE Arung Lapanning, 5. ? I PAkkemme’ Arung Majang.   ? We Tenri LElEang Petta MatinroE ri SorEang PAjung ri Luwu XXIII/XXV menikah dengan  ? La Mappasiling (La Mappaselli) Datu Pattojo Petta MatinroE ri Duninnan (putera La Kareddu Arung Sekkanyili dengan  Ana'na La WEllo WatampanuaE ri Pammmana - Wajo), melahirkan putera puteri, sbb :  1. ? La Mappajanci Sultan Ismail Datu Soppeng XXVII, 2. ? We Tenriabang DaEng Baji DatuE Watu Datu Pattojo Petta MatinroE ri PangkajEnE.II.          ? La Mappajanci Sultan Ismail Datu Soppeng XXVII, menikah dengan  ? We TenriollE Arung Lapanning , melahirkan putera puteri, sbb : 
    1.      ? We Tenri Ampareng Datu Lapajung Datu Soppeng XXX  menikah dengan   ? La PabEangi Datu Ganra Arung BElawa, melahirkan : ? I Baccicu Datu Ganra Arung BElawa. ? I Baccicu Datu Ganra Arung BElawa menikah dengan   ? La Onro Datu Pattiro Datu Soppeng XXXII, melahirkan putera puteri, sbb : ? La PabEangi Datu Ganra SullE Datu Soppeng menikah dengan   ? We Tenriwatu Sultanah ZaEnab Datu Soppeng XXXV (adik La OddangpEro Datu Larompong Arung Matoa Wajo XLIV), melahirkan putera puteri, sbb : 1. ? La Wana Datu Ganra Datu Soppeng XXXVI(Datu Soppeng Terakhir), 2. ? La JEmma Datu Lapajung, 3. ? I Tahirah Petta PatolaE Wajo, 4. ? Addiluwu DatuE Watu (isteri La Mangkona Datu Marioriwawo Arung Matoa Wajo XLV = Arung Matoa Wajo terakhir). La Rumpangmegga Datu Pattiro Petta Ranreng TalotenrEng, Wajo menikah dengan   ? I Patimang Daeng Boddong, melahirkan : ? I Caiyya - I Soji Datu Madello Arung BElawa menikah dengan   ? La TEngko Arung BElawa Alau Petta Manciji'E ri Wajo, melahirkan putera puteri, sbb : 1. We Tenrikawareng Arung BElawa MatinroE ri Pompanua, 2. We Panangngareng Datu Madello, 3. La Passamula Datu Cella' BElawa, 4. La Patongai Datu Bolong Datu Doping Arung BElawa (Arung BElawa terakhir). 2. La MappapolEonro Sultan Nuhung Petta MatinroE ri Amala’na Datu Soppeng XXVIII  menikah dengan  ? I Tenriawaru Datu Soppeng XXIX Pajung ri Luwu XXVII  (puteri La Tenri Peppang DaEng Paliweng Petta MatinroE ri Sabbangparu Pajung ri Luwu XXVI dengan  I Manneng Daeng Masia Datu Larompong), melahirkan putera puteri, sbb :
    - La Tenrioddang Pajung ri Luwu XXVI, menikah dengan   ? We Habibah Opu Daeng Talebbi,
    - We Hamidah Opu AnrEguru Pajung ri Luwu XXVIII,
    - La Tenrisessu' Arung Galung menikah dengan   ? I WEwanglangi,
    - La PamadenglettE Opu Cenning Luwu menikah dengan   ? I Tenri Arung Singkang, Wajo
    - We Singara Opu Daeng Matana menikah dengan    ? La WEwang Opu MatinroE ri Baruganna,
    - We Pancaitana Arung Akkampeng menikah dengan    ? La Rumpangmegga Datu Lamuru,
    - La Sumange'rukka Arung BErubEru menikah dengan   ? We Ane'banna Opu Indo'na Raju,
    - La Guttu Patalo Datu MariMari menikah dengan   ? I MaurantE Petta Ipao,
    - La Saliu' Opu Sanggaria, Luwu  menikah dengan   ?  Arung Lita,
    - La Tenri Peppang Pabbicara Luwu
    - We Addiluwu
    - La Tiuleng
    Salah seorang putera MatinroE ri Mallimongeng dengan We Mommo Sitti Aisyah diatas, yakni : ? La Balloso’ Toakkotto Muhammad Ramalang Arung PonrE Petta MaddanrengngE ri Bone juga menebarkan keturunannya yang kelak pula menjadi penguasa-penguasa di Bone, Wajo dan LimaE Ajatappareng (Sidenreng, Rappeng, Suppa, Alitta dan Sawitto), diuraikan sebagai berikut :
    La Balloso’ Toakkotto Muhammad Ramalang Arung PonrE Petta MaddanrengngE ri Bone  menikah dengan   ?  CilaungngE, melahirkan :  ?  WeBenni' MajjumbaE.
    WeBenni' MajjumbaE menikah dengan   ? La Betti Arung Rappeng, melahirkan putera puteri, sbb : 1. ?  I Baku Petta Lolo Rappeng,  2. ? Indo Mattaro Arung Rappeng.
    I Madditana Indo Mattaro Arung Rappeng  menikah dengan   ? La Makkulawu Arung Gilireng Petta CakkuridiE ri Wajo (putera ? La Canno' Petta LampE Uttu Arung Gilireng dengan ?  I Mappanyiwi DatuE Watu binti La Pallawagau  Arung Maiwa Datu Pammana Petta Pilla'E ri Wajo), melahirkan : ? La Mangkau' Petta PonggawaE ri Bone.
    La Mangkau' Petta PonggawaE ri Bone menikah dengan    ? I Baji Datu Bolli, melahirkan putera puteri, sbb : 1. ?  I BaEdah Addituang Sawitto XIII,  2. ? La Canno' Datu Pattojo,  3. ? La Sunra KaraEng CenrapolE.
    I BaEdah Addituang Sawitto XIII menikah dengan   ? La Saddapotto Addatuang Sidenreng XVI, melahirkan : ? Toangcalo Arung MallusEtasi.
    Kemudian La Balloso’ Toakkotto Muhammad Ramalang Arung PonrE Petta MaddanrengngE ri Bone  menikah dengan   ?  We Tenrigau' , melahirkan putera puteri, sbb :We Halijah (I PatEtEi), menikah dengan   ? La KunEng Datu Suppa VIII Addituang Sawitto VIII Arung BElawa Orai', melahirkan putera puteri, sbb : 1. ? La Cibu Addatuang Sawitto IX, 2. ? DatuE ri Suppa XII,  3. ? I Cadeng Datu Suppa XI, 4. ? I Temme' Addituang Sawitto X, 5. ? I Tenrilipu Daeng Matana (isteri ? La Tenrisukki Arung Kajuara MaddanrengngE ri Bone).
    We Tenripada Petta MatinroE ri Saodenra , menikah dengan   ? La Tenri Tappu Sultan Ahmad Saleh Petta MatinroE ri RompegadingMangkau ri Bone XXIII, melahirkan : ? La Tenrisukki Arung Kajuara MaddanrengngE ri Bone.
    I Kati Arung Palippu,  menikah dengan   ? La SampennE' Petta La Battoa Arung Liu Cakkuridi ri Wajo (putera ? La Urenglangi Tosadapotto Arung PEnEki dengan  ?  I Saomi Arung Singkang) , melahirkan putera putera, sbb : 1. ? La Makkaraka Petta Ogi Arung BElawa,  2. ? La Olling (La Rappe') Arung Liu SullE Ranreng Tuwa MaddanrengngE ri Bone.
    La  Makkaraka Petta Ogi Arung BElawa,  menikah dengan   ?  I KambeccE Petta PatolaE ri Wajo, melahirkan : ?  I Busa Petta WaluE Arung BElawa.
    I Busa Petta WaluE Arung BElawa ,   menikah dengan    ? La Tompi Wanua Arung BEttEngpola Petta MatinroE ri Wajo Arung BElawa melahirkan : ? La Tune' Mangkau' Arung BEttEngpola Petta MatinroE ri Tancung.La Tune' Mangkau' Arung BEttEngpola Petta MatinroE ri Tancung , menikah dengan ?  Sompa ri Timo MajjampaE Petta PabbatE PEnrang MatinroE ri Cinottabi,  melahirkan putera puteri, sbb : 1. La Gau'Arung BEttEmpola Petta MatinroE ri Masigi'na,  2. ? La Jallo' Datu Patila,  3. ? La GomEng (La ComE'),  4. ? I Gallong Arung Liu MajjumbaE,  5. ? La Daming Petta Ogi Arung Belawa,  6. ? La KeccE' Petta Manciji ri Wajo, 7. ? La TEngko Arung Belawa Alau Petta Manciji ri Wajo,  8. ? I Hawang.
    Himpunan silsilah Latoa juga menyebutkan lebih lanjut perihal keturunan Petta MatinroE ri Mallimongeng yang menebarkan pula garis keturunannya di Gowa, Alitta dan Suppa, sebagaiberikut : La Tenri Tappu Daeng Palallo Sultan Ahmad Saleh Petta MatinroE ri RompegadingMangkau ri Bone XXIII menikah dengan   ? We Padauleng  melahirkan putera puteri, sbb :  1. ? La Tenrisukki  Arung Kajuara  Tomalompo Bone, 2. La Mappasessu Toappatunru Sultan Ismail Muhammad Tajuddin Arung Palakka Petta MatinroE ri Lalengbata Mangkau ri Bone XXIV , 3. ? I Manneng (We Pancaitana) Arung Data Petta MatinroE ri KEssi Mangkau ri Bone XXV, 4.  ? La Mappaselling Arung Panyili Arung SinrE  Sultan Adam Najamuddin Petta MatinroE Salassana Mangkau ri Bone XXVI, 5. ? Batara Tungke' Arung Timurung,  6. ? La Tenribali Arung Ta,  7. ? La MappaEwa To Malompo Bone Arung Lompu AnrEguru Ana'arung Bone, 8.  ?  La Paremma'rukka Arung KarElla,  9. ? La Temmupage'  Arung Paroto Ponggawa BonEMatiinroE ri Alau Appasareng,  10. ? La Pawawoi Arung Sumaling,  11. ? Mamungcaragi, 12.  ? We Kalaru Arung PallEngoreng,  13. La Patuppu Batu Arung Tonra,  La Tenrisukki  Arung Kajuara  Tomalompo Bone menikah dengan   ? We Maddika CindE Arung Alitta, melahirkan : ?  Pancaitana We Tenriawaru BessE' Kajuara MatinroE ri Majennang Datu Suppa Mangkau ri Bone XXVIII.Pancaitana We Tenriawaru BessE' Kajuara MatinroE ri Majennang Datu Suppa Mangkau ri Bone XXVIII  menikah dengan  ? La ParEnrEngi Arung Ugi Sultan Ahmad Saleh Mahyuddin MatinroE ri Aja BEntEng Mangkau ri Bone XXVII (putera ? La MappaEwa To Malompo Bone Arung Lompu AnrEguru Ana'arung Bone dengan  ?  I Tabacina KaraEng KanjEnnE' binti La Pasanrangi "Muhammad Arsyad " Petta CambangngE Addatuang Lolo SidEnrEng), melahirkan : 1. ? La  Sumange'rukka, 2. ?  I BubE Datu Suppa, 3. ?  I Sekati Arung Ugi,        4. ?  I Cella' We Tenripaddanreng (We Bunga Singkerru) Arung Alitta.
    I Cella' We Tenripaddanreng (We Bunga Singkerru) Arung Alitta menikah dengan  ? I Makkulawu Sultan Muhammad Husain KaraEng LEmbangparang Tumenanga ri Bundu'na Somba ri Gowa XXXIV (putera ? I Mallingkaan DaEng Manyonri Sultan Muhammad Idris KaraEng Katangka Pati Matareng Tumenanga ri Kalabbirangna Somba ri Gowa XXXIII dengan  ?  We Tenripada Arung Berru Sultana Aisyah KaraEng BainEa ri Gowa cucu La Mappasessu Toappatunru Sultan Ismail Muhammad Tajuddin Arung Palakka Petta MatinroE ri Lalengbata Mangkau ri Bone XXIV), melahirkan putera putera, sbb : 1. ? I Panguriseng Arung Alitta, 2. ? Andi Mappanyukki Sultan Ibrahim Datu Suppa MatinroE ri Panaikang Mangkau ri Bone XXXI
    1.      ? I Panguriseng Arung Alitta,
    I Panguriseng Arung Alitta menikah dengan sepupu sekalinya, yakni : ?  We SEno KaraEng Lakiung (puteri ? I Batari Arung Berru, saudara kandung ?  We Tenripada Sultana Aisyah Arung Berru KaraEng BainEa ri Gowa dengan  ? I Mahmud KaraEng BEronging), melahirkan puteri puteri, sbb :  
    1. We Cella' KaraEng Lakiung,  2. ?  We Saripa KaraEng Pasi.
    2. Andi Mappanyukki Sultan Ibrahim Datu Suppa MatinroE ri Panaikang Mangkau ri Bone XXXI (Pahlawan Nasional RI)
    ? Andi Mappanyukki Sultan Ibrahim Datu Suppa MatinroE ri Panaikang Mangkau ri Bone XXXI menikah dengan  ?  We Batasi Daeng Ta (puteri ? Gallarang Tombolo, BatE Salapangnga Gowa), melahirkan : ? Andi PangErang Daeng Rani Arung MacEgE.
    Andi Mappanyukki Sultan Ibrahim Datu Suppa MatinroE ri Panaikang Mangkau ri Bone XXXI menikah dengan  ?  We BessE' Petta Bulo (puteri ? La Sadapotto Addatuang SidEnrEng XVI dengan We BaEdah Addituang Sawitto XIII), melahirkan putera puteri, sbb :  1. ? Brigadir Jenderal Andi Abdullah Bau MassEpE Datu Suppa Lolo (Pahlawan Nasional RI), 2. ?  Andi Sitti Rakiyah KaraEng Balla' Tinggi Addituang Sawitto XV, 3.  ?  Andi BulaEng
    Brigadir Jenderal Andi Abdullah Bau MassEpE Datu Suppa Lolo (Pahlawan Nasional RI) menikah dengan  ?  Andi Soji KaraEng KanjEnnE' Datu Suppa (puteri ? Andi MappangilE KaraEng TinggimaE Addatuang SidEnrEng dengan ?  Andi Panangngareng Datu Madello binti La TEngko Arung BElawa Alau Petta Manciji'E ri Wajo), melahirkan putera puteri, sbb : 1. ? Andi Bau KunEng Datu Suppa,  2. ?  Andi Bau Amessangeng,  3.  ?  Andi Bau Dalauleng,  4. ?  Andi Bau WEttoing.
    Lalu saudara Bau MassEpE, yakni:  ?  Andi Sitti Rakiyah KaraEng Balla' Tinggi Addituang Sawitto XV menikah dengan   ? Andi Makkulawu Petta CakkuridiE ri Wajo Bupati Pinrang I dan Walikota Parepare II, Anggota DPR/MPR RI (putera ? La MappabEta Datu WaliE dengan ?  We Tenri Passessu), melahirkan putera puteri, sbb : 1. ? Andi Mimang, 2. ? Andi Tenri SanrE, 3. ? Andi BaEda,  4. ? Andi Guril.
    Pada keempat nama terakhir diatas, menurut sepengetahuan penulis adalah  termasuk segelintir dari sangat sedikit turunan bangsawan Bugis-Makassar turunan Matanna Tikka yang masih terhitung berdarah murni (Bocco). Kemudian pada pernikahan lainnya Puetta MatinroE ri Panaikang, ..
    Andi Mappanyukki Sultan Ibrahim Datu Suppa MatinroE ri Panaikang Mangkau ri Bone XXXI menikah dengan  ?  We ManEnnE KaraEng Ballasari , melahirkan :  ?  We Tenripada Opu Datu Luwu.We Tenripada Opu Datu Luwu  menikah dengan  ? Andi JEmma La Patiware' Petta MatinroE Bintangna Pajung ri Luwu XXXIII, melahirkan :   ?  Andi JEmma BaruE.
    Kembali kepada turunan Puetta ? La Tenri Tappu Daeng Palallo Sultan Ahmad Saleh Petta MatinroE ri Rompegading Mangkau ri Bone XXIII   dengan   ? We Padauleng yang lainnya,  yakni : La Mappasessu Toappatunru Sultan Ismail Muhammad Tajuddin Arung Palakka Petta MatinroE ri Lalengbata Mangkau ri Bone XXIV.La Mappasessu Toappatunru Sultan Ismail Muhammad Tajuddin Arung Palakka Petta MatinroE ri Lalengbata Mangkau ri Bone XXIV  menikah dengan  ?  Arung Kaju, melahirkan : ?  I BaEgo Arung MacEgE.I BaEgo Arung MacEgE  menikah dengan  ?  La Sumangerukka Topatarai Arung Berru (putera ?  Toappasawe' Arung Berru bin La Toappo Arung Berru Addatuang SidEnrEng XII dengan  ?  I Halijah Arung Pao-Pao),  melahirkan putera puteri, sbb :  1. ?  La Singkerru Rukka Sultan Ahmad Arung Palakka Arung Bulo-Bulo  Petta MatinroE ri Topaccing Mangkau ri Bone XXIX,  2. We Tenripada Sultana Aisyah Arung Berru KaraEng BainEa ri Gowa,  3. ? I Batari Arung Berru.La Singkerru Rukka Sultan Ahmad Arung Palakka Arung Bulo-Bulo  Petta MatinroE ri Topaccing Mangkau ri Bone XXIX menikah dengan   ?  I Kalessong KaraEng LangElo,  melahirkan :  ?  La Pawawoi KaraEng SEgEri MatinroE ri Jakarta Mangkau ri Bone XXXI.La Pawawoi KaraEng SEgEri MatinroE ri Jakarta Mangkau ri Bone XXXI  menikah dengan   ?  We Karibo DaEng TanEtE, melahirkan :  ?  Abdul Hamid Baso Pagilingi Ponggawa Bone.Abdul Hamid Baso Pagilingi Ponggawa Bone menikah dengan   ?  We Cenra Arung Cinnong, melahirkan : ?  La PabbEntEng DaEng Palawa Arung MacEgE Mangkau ri Bone XXXIII.La PabbEntEng DaEng Palawa Arung MacEgE Mangkau ri Bone XXXIII  menikah dengan   ?  We Dalauleng Arung Baranti (puteri La Pajju Arung Tellu Latte' SidEnrEng dengan   ?  We Bungawaru binti La Cibu Addatuang SidEnrEng).
    Pada Lontara Balanipa (Mandar) menyebutkan pula perhubungan tali kekeluargaan dengan keturunan Matanna Tikka MatinroE ri Naga Uleng, yakni ? TonrawaliE DaEeng Manguju Tomatindo di Lanrisang Maraddia Balanipa XXXI (putera Datu Lanrisang Addituang Sawitto) menikah dengan salahsatu puteri Matanna Tikka MatinroE ri Naga Uleng (tidak menyebutkan nama), melahirkan : ? BessE Soppung TobEme di Saiyang.Kemudian ? BessE Soppung TobEme di Saiyang menikah dengan ? TomappElai Pattujunna Maraddia Balanipa XXXIV, melahirkan putera puteri, sbb : 1. ? TomongE AllElangnga Maraddia Balanipa XXXVII, 2. ?  Topadda, 3. ? Tobalu diLElusang.Beberapa waktu lalu, seorang kerabatku muliaku yang terlahir dan tumbuh serta menetap di salahsatu wilayah Kabupaten Bone kini, berkata : “..dE’gaga matase’ narEkko Tania To Bone..”. Maka saya pun bertanya, “..tabE, tegaE taseng To Bone ?”. “..idi’ riyasengngi’ To Bone, iyanaritu to rijajiEngngE topajajianna na mpekke’ki ri Bone”. Maka saya pun cuma bisa terperangah.
    Bahwa sebagaimana yang dapat dilihat pada sekelumit uraian silsilah Bone diatas, maka benarlah pendapat Dr. Shelly Errinton, bahwa : sejak La Patau Matanna Tikka menanamkan supremasinya melalui politik perkawinan antar segenap turunan Raja-Raja Sulawesi Selatan, maka tahta Mangkau’ di Bone bisa diwarisi oleh oleh seluruh pangeran dan puteri dari segenap Kerajaan Lokal di Sulawesi Selatan, selama ia terhitung memiliki derajat “Ana’ Mattola” “Darah Bocco” yang terpelihara kemurniannya sejak dari nazab Matanna Tikka. Maka tidaklah terlalu mengherankan jika menelusuri uraian-uraian silsilah diatas, didapati jika beberapa Raja Bone pada akhir abad XIX hingga memasuki awal abad XX justru dapat dikatakan terlahir dan tumbuh besar dari luar wilayah Bone, misalnya : Gowa dan Sidenreng.
    Sesungguhnya yang membesarkan Tanah Bone pada abad-abad terdahulu, bukannya karena para bangsawannya adalah mutlak “ASLI BONE”, melainkan karena membaurnya dengan penguasa-penguasa asli Sulawesi Selatan lainnya. Maka dari sinilah ditemui kepiawaian Petta TorisompaE yang visioner dan futuristic dengan pandangan baginda dalam menyatukan berbagai potensi karakter masing-masing masyarakat yang mendiami Sulawesi Selatan pada masanya. Baginda merangkumnya menjadi satu dalam suatu ikatan “PassEajingeng” dari perhubungan darah yang dijiwai “Panagadereng” berazaskan “Siri PessE”.
    Rekkuwa engka tasi' akkajang
    Padang malowan allowangrumang
    Pasa'marowa abbalureng

    Karena adanya laut tempat berlayar (melaut danmencari ikan)
    Lahan yang luas tempat bercocok tanam
    Pasar yang ramai tempat perniagaan

    Kemudian Sejarawan Prof. Dr. H. Andi Mattulada mengemukakan dengan sangat sistematis (Sejarah, Masyarakat dan Kebudayaan Sulawesi Selatan,  Hasanuddin University Press, Makassar- 1998), bahwa dalam kurun Abad XV-XVI negeri-negeri di Sulawesi Selatan mulai menunjukkan identitasnya masing-masing. Penyebutan "Tana Ugi", "Butta Mangkasara", "Tana Toraja" dan "Lita' Mandar" adalah penyebutan para anak negeri itu berdasarkan lingkup asal geografis dimana ia dilahirkan serta dengan penekanan aksennya masing-masing. Hingga kemudian, perbedaan identitas tersebut mengkristalkan diri dengan mengantarkan kaum-kaum atau kelompok persekutuan hidup membentuk kelompok-kelompok etnik utama yang kini dikenal sebagai : Bugis, Makassar, Toraja dan Mandar.
    Negeri Asal Muasal

    1.  La Sumange’rukka Topatarai,


    Sumber : andi oddang.

     
    PROSES UPDATE DATA
    Support : Creating Website | BELAWA | KIBAR
    Copyright © 2011. KIBAR BELAWA TOSAGENAE - All Rights Reserved
    Template Created by Creating Website Published by TOSAGENAE
    Proudly powered by Blogger