Belawa, memasuki Awal Abad XX (bag. 1)
Petikan tulisan Andi Oddang
Mengetahui jika junjungan
yang dihormati dan disayangnya bagai puterinya sendiri telah wafat di Negeri
pengasingannya, Petta Pangulu amat berduka. Dikisahkan oleh NEnE
Rukka bahwa pada suatu hari, beliau keluar dari biliknya dan
langsung menuju ke sungai. Panglima tua yang semakin uzur itu mandi cukup lama
lalu naik kembali ke Saoraja sambil membawa sebongkah batu sungai berwarna
coklat kelabu yang berukuran agak panjang (panjang kira-kira 50cm dan
berdiameter kira-kira 20 cm). Beliau meletakkannya bersandar pada dinding
"jajareng" (dinding tengah) seraya berkata, : "Akko
matEka' baja sangadiE, iyEna matu mEsaku.." (sekiranya esok
atau lusa aku meninggal dunia, maka inilah batu nisanku..).
Maka berlakulah ketentuan Allah Azza Wajallaa. Tidak lama setelah
peristiwa itu, Petta Pangulu wafat dalam tahun 1917. Menurut kesaksian sepupu
ayahanda penulis bernama I BeccE' Pamuri (umur 85
th) pada tahun 2005 di TippuluE, bahwa : " Baiccu'mopa na lElE
ri pammasENa Petta Pangulu. NaEkia manessa paringerrangku Ero wettuE, MONI
SIBELAWA ballili'E ri wettu riulEE bare' Petta Pangulu lao ri Jara'E.." (Aku
masih kecil ketika Petta Pangulu wafat. Namun masih jelas dalam ingatanku bahwa
waktu itu ketika Jenazah Petta Pangulu diusung menuju pemakaman, seluruh
senapan di Belawa ditembakkan keudara, gegap gempita mengiring
keberangkatannya...). Sesuai wasiatnya, makam beliau ditandai dengan sebongkah
batu sungai berukuran kecil diatas pusaranya. MenurutNEnE Rukka, maksud
beliau tersebut agar para pengagumnya tidak mengkultuskan makamnya.
Begitulah akhir seorang legendaris pada jamannya yang merupakan Panglima
terakhir kerajaan Belawa.

Adapun halnya dengan Saoraja Bakkaa'E sepeninggal
Petta Pangulu, konon Saoraja tersebut "dijual" pada seorang bangsawan
yang berdiam di Bilokka (Sidenreng). Tidak ada yang tahu persis, siapa
diantara anaknya yang menjual dan mengapa situs peninggalan La
Paranrengi Daeng Sijerra tersebut diperjualbelikan. Bahkan bekas-bekas
berdirinya komplek Saoraja itu menurut ayahanda penulis, terletak dipinggir
sungai KarajaE sebelah barat, persis dimulut jembatan SappaE sekarang
ini. Kira-kira 5 meter sebelah selatan jembatan tersebut,
terdapatlah sebuah"Limpungeng" (kedung atau
bahagian sungai yang dalam) dimana senapan, amunisi dan peluru para Lasykar
Belawa dibuang (ditenggelamkan) atas perintah Arung Belawa.
Selama hidupnya, Petta Pangulu memiliki 2 orang isteri sah dan beberapa gundik
yang kesemuanya itu melahirhan beberapa putera dan puteri. Kedua isteri sah
beliau adalah puteri La Mude' SullEwatang Laomapada dengan I
RawE(kerabat Bettempola) yang masing-masing bernama : I Tuwo dan I
Bada'. Dari I Tuwo, beliau mendapatkan keturunan masing-masing bernama
: I Munta Daeng Mattappa, (wafat di Jambi), I Patinrosi
ArungngE Daeng Sagala dan La Massi' Daeng Pagiling.
Setelah I Tuwo meninggal dunia, maka atas ininsiatif Arung Belawa (Datu
Tenri Kawareng) maka beliau diperjodohkan dengan adik I Tuwo (ipasitola
angkalungeng) bernama ; I Bada'. Dari isteri kedua inilah maka lahirlah
: La Makkarumpa' (wafat di Jambi). Sementara dari
beberapa gundiknya juga mendapatkan keturunan yang tidak dapat diuraikan pada
kolom ini.
Setelah lowong beberapa tahun lamanya, maka dinobatkanlah kemenakan Arung
Belawa terdahulu bernama : La Onro Arung Belawa (putera I
Panangngareng Datu Madello dengan La MappangilE
Addatuang Sidenreng). I Panangngareng Datu Madello adalah
adik kandung I Tenri Kawareng Arung Belawa MallinrungngE ri Pompanua.
Arung Belawa ini masih berumur remaja ketika dilantik menjadi Arung Belawa.
Menurut beberapa sumber yang penulis dapatkan, antara lain : La
Maccaning (Wa Caning Alm.) bahwa masa pemerintahan baginda yang
berumur amat muda ini menjadikan Belawa menjadi aman tenteram. Salahsatu
gebrakan awal baginda adalah dengan memprakarsai pembangunan Mesjid Raya
yang kini dikenal sebagai Mesjid Darussalam yang
terkenal itu. Talenta kepemimpinan Datu La Onro berkat wawasannya yang luas
terhadap kondisi Sulawesi Selatan pada masa itu yang didapatkan dari didikan
orang tuanya. Perlu dikemukakan disini, bahwa La MappangilE
Addatuang Sidenreng (ayahanda Datu La Onro) adalah putera La
ParEnrEngi KaraEng TinggimaE seorang Pangeran Tana Gowa yang dapat
dikatakan sebagai "Arung Ajattappareng". KaraEng
TinggimaE' pun sesungguhnya adalah Pangeran Tana Wajo karena beliau adalah
putera Ishak Manggabarani KaraEng MangEppE' Petta MatinroE ri Cappa'
Galung Arung Matoa Wajo ke-XLIII dari permaisurinya bernama : I
Dala WEttoing KaraEng KanjEnnE'.
Tersebutlah pada masa yang sama, bertahtalah La Patongai (bergelar Datu
Bolong) di Doping. Daerah yang merupakan kawasan
Tana Wajo yang dulunya bernama PEnrang. Tahta itu adalah
merupakan warisan Baginda dari Nenekdanya yang bernama : Sompa ri
Timo MajjampaE Petta PabbatE PEnrang. Baginda tinggal di Doping bersama
isterinya bernama : I Bossa setelah isteri
Baginda yang terdahulu bernama : Bau' Mapparimeng Datu Madello wafat
beberapa tahun sebelumnya. Selain itu, baginda ditemani oleh kakandanya dari
lain ibu bernama : I Batari Petta Lonra (juga puteri La
TEngko Petta Manciji'E ri Wajo dengan I REwo Ana'na
Arung Batu). Namun setelah beberapa tahun menetap dan memerintah di
Doping, terjadilah "perselisihan" dengan Dewan Petta EnnengngE
disebabkan sesuatu hal yang tidak dapat diuraikan pada tulisan ini. Akibatnya,
Baginda meninggalkan Doping bersama isteri, anak, kakak dan segenap sahayanya
menuju ke Belawa dimana kemenakannya (Datu La Onro) sedang bertahta di Belawa.
Sebagaimana yang telah dikemukakan pada bab terdahulu, bahwa Datu La
Onro Arung Belawa adalah putera I Panangngareng Datu
Madello, saudara kandung Datu Bolong. Mengetahui
pamandanya tinggal menetap di Belawa dan sedang membangun Saoraja di JampuE,
Datu La Onro Arung Belawa melantik (napasalEppangi)
"bibinya" yakni : I Bossa selaku SullEwatang Belawa Orai'.
Namun tidak beberapa lama kemudian disebabkan suatu hal, Datu La Onro Arung
Belawa pergi meninggalkan Belawa dan menetap di Sidenreng, negeri kekuasaan
ayahandanya.
Setelah kepergian Datu La Onro, maka dinobatkanlah La Patongai Datu
Doping menjadi Arung Belawa. yang merupakan Arung
Belawa terakhir karena setelahnya, tidak ada
lagi Arung Belawa yang dilantik (IpakkalEjja'
ri Tuppu Batu Tana Bangkala'na Belawa). Berselang beberapa waktu
setelah penobatannya, Baginda menempatkan Kakandanya ( I Batari)
menjadi Petta Lonra. I Batari Petta Lonra menikah
dengan sepupu sekalinya (juga sepupu satu kali Datu Bolong) bernama Petta
Landeng, putera Sitti Hawang Datu MakkunraiyyE (saudara
kandung La TEngko Petta Manciji'E).
Baginda Datu Bolong merupakan seorang Raja yang kharismatik dan banyak kisah
menarik seputar masa hidupnya. Semasa kecil, penulis pernah mendengar cerita
tentang Baginda Datu Bolong dari seorang Makassar bernama Bilala'
Nongci (Bilal mesjid Lonra). " Iya',
Mangkasa ka', ana'. Maddarupang-rupangni Arung Maraja pura utuju pakkita.
NaEkia, dE'pa gaga pada karame'na Datu Bolong..." (saya
adalah orang Makassar. Sudah banyak raja-raja yang pernah kulihat, namun belum
ada yang menyamai keramatnya/kharismanya paras Datu Bolong).
Tersebutlah sebuah kisah yang dituturkan oleh Andi Patau' (adik
kandung ayahanda penulis), pada suatu ketika Datu Bolong mendapat undangan dari Andi
Mappanyukki' Sultan Ibrahim Datu Suppa' Petta Mangkau' ri Bone. Baginda
diundang ke Watampone untuk menghadiri rapat (Tudang Ade') yang dihadiri
kalangan Raja-Raja Se-Sulawesi Selatan untuk membicarakan perihal dukungan
terhadap Proklamasi Kemerdekaan RI....
Sebagaimana dituturkan Pamanda yang waktu itu membawa "Saleppa" (Kotak
Sirih) baginda Datu Bolong, bahwa Arung Belawa Andi Patongai datang agak
terlambat pada majelis itu. Oleh Pattumaling (Petugas
Protokoler Istana), baginda ditempatkan agak jauh dari posisi "Ulu
Tudangeng" yang ditempati Baginda ArumponE (Andi
Mappanyukki'). Tiba-tiba ArumponE menyeru pada Pattumaling, : "TaniajE'
akkoro monro tudangenna Andi Patongai. Akko maiyyE tudangenna..." (Bukan
disitu tempatnya Andi Patongai. Mestinya disini...), kata Petta Mangkau'E
tersebut sambil menunjuk tempat kosong disampingnya. Sejak itu, termahsyurlah
Baginda Datu Bolong sebagai seorang raja dari sebuah negeri kecil, namun sangat
diutamakan sebagai seorang Datu Maddara Matase' (Maddara
Takkuu), adinda I Tenri Kawareng Arung Belawa MallinrungngE ri
Pompanua. Sejak itu pulalah, Baginda diberi gelar "Andi"sebagaimana
ArumponE sendiri yang menyebutnya demikian.
Perlu dikemukakan dari beberapa sumber yang salahsatunya dari Opu
Tuan Abd. Halid (Almarhum) dari Bira, Bulukumba. Beliau menuturkan
kepada penulis pada tahun 1999, bahwa : Asal muasal gelar "Andi" pada
bangsawan Bugis dan Makassar berawal pada " I Mappanyukki
Sultan Ibrahim " semasa baginda menjadi ArumponE. Pada suatu
waktu, seorang berkebangsaan Perancis datang berkunjung pada Istana Beliau di
Watampone. Pada perbincangan tentang seputar keadaan Sulawesi Selatan pada masa
itu, orang Perancis tersebut senantiasa menyebut nama baginda ArumponE sebagai
: "AndiEr Mappanyukki". Menurut juru bahasa yang
menyertainya, itu berarti : "Paduka Yang Mulia
Mappanyukki" atau dalam bahasa Inggris kira-kira disamakan
dengan : You Are Majesty Mappanyukki". Maka setelah
peristiwa itu, baginda ArumponE disebut namanya sebagai : Andi
Mappanyukki, menyesuaikan dalam lidah bahasa Bugis.
Menurut keterangan dari ayahanda, bahwa sejak beberapa lama sekembalinya dari
WatamponE, Baginda Datu Bolong mulailah tertulis namanya sebagai "Andi
Patongai". Pada masa itu tidak seorangpun di Belawa yang memakai gelar
"Andi" selain Baginda. Namun sebagaimana halnya sesuatu yang lagi
"Trend", maka mulailah beberapa gelintir bangsawan mencoba-coba
menggunakan gelar tersebut. Hingga pada suatu waktu, seorang putera bangsawan
bernama La MappangilE disebut namanya oleh La Kube' (salah
seorang abdi Datu Bolong) disebut sebagai " Andi MappangilE "
dihadapan Baginda. Seketika Baginda Datu Bolong marah besar seraya berkata : "
Andi MappangilE nigajE'tu ?!. SEddimi iya' uwisseng riyaseng ANDI MAPPANGILE,
iyya monroE ri Sidenreng (maksudnya :Andi MappangilE Addatuang Sidenreng)" (Andi
MappangilE yang mana lagi ?! Cuma satu Andi MappangilE yang saya tahu, yaitu
yang tinggal di Sidenreng..). Sungguh, baginda MallinrungngE tersebut begitu
ketatnya menjaga tatanan agar tidak terjadi ketimpangan sejarah dibelakang
hari.
Andi Patongai Datu Doping Arung Belawa memiliki 3 (tiga)
isteri sah selama hidupnya. Isteri Pertama bernama :Andi Patinrosi
ArungngE Daeng Sagala (puteri La Muhamma' Tang Daeng
Paliweng Petta Pangulu dengan I Tuwo ana'na La Mude
SullEwatang Laomapada) mendapatkan seorang putera yang meninggal semasa
bayi, bernama :Andi Bau Monri. Mereka bercerai dengan baik-baik
karena Daeng Sagala tidak mau dimadu. Isteri Kedua bernama :Andi Bau'
Mapparimeng Datu Madello ( Puteri Petta MorEwE,
cucu DatuE La Pajung, Soppeng. Menurut Lontara' Panguruseng susunan
Andi Nurdjaya Hamzah La Sumange'rukka) yang melahirkan : 1. Andi
Bau' Patiroi, 2. H. Andi Bau' Singke' 3. Andi Bau Isa. Setelah
Datu Madello wafat, maka Baginda menikah lagi dengan Isteri Ketiga adalah :Andi
Bossa (puteri Opu CakElE, menurut Alm. Andi
BallohE') yang juga akrab dipanggil Petta Indo oleh
anak-anaknya. Dari isteri terakhir inilah, maka lahirlah : 1.
Andi Bau' Sulolipu Petta KaraEngngE Camat Belawa I , 2.
Andi Bau Mintang.
Menjelang pertengahan Abad XX, hubungan Belawa dan Sidenreng terkadang masih
terjadi percikan-percikan api yang memicu bentrokan di daerah perbatasan
sebelah utara (Soppa'E dan Lonra YasE').
Atas prakarsa Andi Batari Petta Lonra (saudara seayah
Arung Belawa Datu Bolong) diikatlah jalinan kekerabatan dengan beberapa
Raja-raja lokal yang berada di wilayah Sidenreng, melalui pernikahan putera
puteri mereka. Tujuan politik perkawinan ini tiada lain agar tercipta
perdamaian yang meredam segala bentuk pertikaian dalam jalinan kekerabatan. Maka
oleh Arung Belawa, pada suatu hari diutuslah Andi Batari Petta Lonra untuk
menyampaikan lamaran bagi Andi Bau Sulolipu Petta KaraEngngE ke La
Pannyiwi Arung Utting untuk mendapatkan puteri beliau bernama : Andi
Bua. Maka pernikahan putera puteri Belawa dan Utting terlaksana
dengan meriah yang mempersatukan kembali perhubungan kedua kerajaan yang
bersaudara dimasa lalu. Wallahualam Bissawwab